Pecinta Lingkungan Hidup Minta Toilet Dibangun di Everest

REPUBLIKA.CO.ID, KATHMANDU – Grup pecinta lingungan meminta Pemerintah Nepal memikirkan untuk membangun toilet di Puncak Everest untuk digunakan para pendaki yang membutuhkannya di puncak dunia itu. Eco Himal mengatakan, ribuan pendaki yang naik dari kawasan ‘base camp’ Selatan di Nepal setiap tahun, harus memelihara kebersihan di tempat itu termasuk saat mereka mendapat panggilan alam untuk membuang sampah perut mereka.”Kotoran manusia, tentu saja jadi masalah,” kata Direktur Grup Eco Himal, Phinjo Sherpa, “Saya menyarankan bila ada toilet umum maka para pendaki dapat memanfaatkannya,” katanya lagi. Banyak grup pendaki yang membawa kaleng khusus tempat kotoran, tetapi Phinjo Sherpa mengatakan para pendaki dan pembantu mereka selalu membuang begitu saja kotoran itu.

Aktivis lingkungan itu mengatakan, Everest dipenuhi kotoran para pendaki di masa lalu, termasuk kotoran manusia bahkan mayat pendaki, yang butuh waktu beberapa dekade untuk menjadi kompos, karena cuaca dingin yang cukup ekstrem. Phinjo Sherpa mengatakan, pembangunan toilet akan menjadi salah satu hal yang dibahas dalam rencana pengembangan pengelolaan sampah yang diadakan pemerintah di kawasan Puncak Everest. “Bila ada dua atau tiga toilet sudah amat memadai pada awal pembangunan tempat buang kotoran itu. Kami akan memutuskan apa yang perlu dan kurang perlu dalam rencana itu,” katanya.

Para pendaki menghabiskan uang ribuan dolar untuk mencoba menaklukkan puncak setinggi 8.848 meter itu, tetapi para pengamat menyebutkan amat sedikit dari mereka yang peduli terhadap sampah yang mereka tinggalkan. Tidak ada data lengkap tentang berapa banyak sampah yang ditinggalkan pendaki di puncak gunung itu, tetapi perhitungan sementara menyebutkan selama 50 tahun ini Everest merupakan tempat sampah terbanyak di dunia. Eco Everest Expedition, koalisi lingkungan yang bermarkas di Nepal, untuk mengkampanyekan pemeliharaan kebersihan Everest, mengumpulkan lebih dari 13 ton sampah, 400 kilogram kotoran manusia dan empat mayat manusia, sejak 2008.

 

sampah elektronik (e-waste)

Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna Facebook terbanyak ke dua di dunia setelah Amerika serikat, sungguh tidak mengherankan, karena wabah online-isasi #istilahbaru 😀 telah menular hingga ke tukang becak.

(foto:pak hari dengan becak online nya)

Tak ayal kemajuan teknologi telah merubah gaya hidup masyarakat, hampir dipastikan jika saat ini komputer,handphone bukanlah barang langka di Indonesia. Dengan geliat kemajuan teknologi tersebut ternyata tersimpan ancaman yang besar bagi lingkungan, apalagi kalau bukan masalah sampah dan kali ini sampah jenis baru yaitu e-waste. Data dari Greenpeace memperkirakan jumlah sampah elektronik secara global berkisar antara 20 juta ton dan 50 juta ton per tahun. Besarnya sampah elektronik ini terus meningkat karena pengguna cenderung berganti komputer, ponsel, serta printer lebih cepat daripada masa-masa sebelumnya. Di amerika  pada tahun 1998saja tercatat sekitar 20 ribu PC (personal computer) bekas, dapat dibayangkan berapa jumlahnya pada tahun-tahun belakangan.

Sebagian mungkin berpendapat jika e-waste di Indonesia tentu tidak sebanyak yang dihasilkan di Amerika, namun pendapat tersebut kiranya perlu segera diluruskan. Masalahnya adalah, Indonesia merupakan pasar potensial terhadap komputer bekas. Bukan merupakan suatu masalah jika komputer bekas yang dikirim merupakan komputer yang di rekondisi atau bisa digunakan lagi, seperti yang di advokasikan oleh lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup Basel Action Network (BAN), mereka menyatakan bahwa barang elektronik bekas (used electronic equipment) selama masih bisa berfungsi normal dan dapat dipergunakan tidak dapat dikategorikan sebagai sampah dan tidak dikontrol Konvensi BASEL (konvensi yang mengatur pergerakan limbah B3 lintas negara). Yang menjadi masalah adalah kebanyakan limbah komputer yang dikirim sudah tidak bisa berfungsi dan hanya akan dijual terpisah dari setiap komponennya, sehingga lebih tepat kalau Indonesia di anggap sebagai gudang e-waste yang potensial.

Urgensi dari pengelolaan limbah e-waste adalah kuantitas dan ancaman kontaminasi kandungan bahan berbahaya yang terdapat didalam komponen-komponen komputer tersebut terhadap lingkungan dan manusia. Pemerintah Indonesia yang menganggap penting hal itu segera melakukan respon yang positif. Respon tersebut tertuang didalam  Surat Kementerian Lingkungan Hidup No.B.1258/ DepIV/LH/06/2010 tanggal 8 Juni 2010 tentang Pelarangan Impor Monitor Bekas dan Limbah Elektronik dan Surat Kementerian Lingkungan Hidup dengan Nomor B9921/DepIV/LH/12/ 2010 tanggal 31 Desember tentang Impor Monitor Bekas. Kebijakan ini dirasa sangat tepat jika menimbang bahwa monitor bekas (CRT/Cathode Ray Tube) terdiri dari berbagai komponen limbah B3 seperti Timbal, Merkuri dan Barium, bahan berbahaya lain seperti Cadmium dan Fosfor yang telah terbukti memberikan efek buruk terhadap manusia.

Sayangnya, para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Komputer Layak Pakai Nasional (APKOMLAPAN) ini, menuntut agar Menteri mencabut surat keputusan tersebut. Mereka berkilah keputusan itu akan mematikan pasokan komputer bekas untuk pedagang dan industri komputer bekas.

Niat baik, usaha yang baik ternyata belum cukup untuk dianggap baik, saya pribadi setuju dengan larangan impor limbah monitor dan komputer bekas. Seharusnya para pedagang bisa berpikir out of the box, jika impor komputer bekas tidak dibatasi maka akan semakin membuat usaha rakitan komputer lokal terkalahkan. Jelas sekali jika komputer rekondisi akan memberikan margin keuntungan yang besar dibanding komputer buatan anak bangsa sendiri, selain itu mengambil resiko denga menerima deposit limbah B3 dalam jumlah besar bukanlah perkara yang mudah untuk ditangani. Solusi bagi banyaknya limbah komputer yang sudah berada di indonesia sekarang ini yaitu dengan melakukan recovery terhadap komponen logam didalamnya dengan pengawasan langsung oleh pihak yang berkait untuk meminimalisasi dampak terhadap manusia dan lingkungan. Solusi terakhir yaitu dengan melakukan recycle menjadikan limbah komputer lebih memiliki daya jual, seperti yang dilakukan oleh Jake ham yang menciptakan iMacquarium.

sumber:

  1. kompasonline
  2. http://www.informinc.org/fact_CWPcomputer.php
  3. http://www.treehugger.com/files/2011/10/apple-imacs-recycled-into-imacquariums.php

dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat sampah

Sampah merupakan hasil sampingan dari kegiatan manusia sehari-hari. Jumlah sampah yang semakin besar memerlukan pengelolaan yang harus dilakukan  secara bertanggung jawab.Selama tahapan penanganan sampah banyak kegiatan dan fasilitas yang bila tidak dilakukan / disediakan dengan benar akan menimbulkan dampak yang berpotensi mengganggu lingkungan.

berikut ini merupakan dampak yang ditimbulkan akibat masalah sampah, semoga bermanfaat.

1. Perkembangan vektor penyakit

Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa makanan dalam jumlah yang besar. Tempat Penampungan Sementara / Container juga merupakan tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama. Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan sekitarnya.

Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai radius 1-2 km dari lokasi TPA

2. Pencemaran Udara

Sampah yang menumpuk dan  tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak sedap yang memberikan efek buruk bagi daerah sensitif sekitarnya seperti permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses pengangkutan sehingga menyebabkan kapasitas tempat terlampaui. Asap yang timbul sangat potensial menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitarnya.

Sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga sangat berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang dilalui, terutama akibat bercecerannya air lindi dari bak kendaraan.

Pada instalasi pengolahan terjadi berupa pelepasan zat pencemar ke udara dari hasil pembuangan sampah yang tidak sempurna; diantaranya berupa : partikulat, SO x, NO x, hidrokarbon, HCl, dioksin, dan lain-lain. Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti CO, CO2, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan mengganggu komposisi gas alamiah di udara, mendorong terjadinya pemanasan global, disamping efek yang merugikan terhadap kesehatan manusia di sekitarnya.

Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau.  Disamping itu juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis.

Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik. Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan yang cukup besar dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat mengganggu daerah sekitarnya.

3. Pencemaran Air

Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan lindi terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran.

Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di sekitarnya.Lindi yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan, kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang trerletak pada elevasi yang lebih rendah.

Pencemaran lindi juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang belum memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima. Karakteristik pencemar lindi yang sangat besar akan sangat mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut sehingga mematikan biota yang ada.

4. Pencemaran Tanah

Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan mungkin juga mengandung Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama sampai sampah terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya.

5. Gangguan Estetika

Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya.  Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya.

Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan penutup yang memadai.

Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi estetika lingkungan sekitarnya. Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah yang dilalui.

Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan angin pada lokasi yang sedang dioperasikan. Hal ini menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang melintasi / tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut.

6. Kemacetan Lalu lintas

Lokasi penempatan sarana / prasarana pengumpulan sampah yang biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar, pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas.

Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya.

Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jam-jam kedatangan. Pada TPA besar dengan frekwensi kedatangan truck yang tinggi sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila TPA terletak berdekatan dengan jalan umum.

7. Gangguan Kebisingan

Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat / truck timbul dari mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan lain-lain yang dapat mengganggu daerah-daerah sensitif di sekitarnya.

Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan (tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder). Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping operasi alat berat yang ada.

8. Dampak Sosial

Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat permukimannya. Karenanya tidak jarang menimbulkan sikap menentang / oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan. Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya.

sampah

……………..

dirangkum dari diktat kuliah persampahan.Jurusan Teknik Lingkungan UII

AMDAL Pertambangan

Berbicara mengenai sektor pertambangan dan lingkungan serasa tidak ada habisnya, selalu menarik untuk dibahas, saat saya berdiskusi dengan teman-teman dari pertambangan, mereka berpendapat bahwa pertambangan tidak semata-mata memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, tidak semata-mata menimbulkan limbah, lalu yang lebih membuat saya tertawa ketika mereka berkata “jika anda lebih memilih kelestarian lingkungan maka biarkanlah bahan tambang tetap berada di dalam perut bumi, namun tunggu saja kehancuran umat manusia, karena sesungguhnya banyak kebutuhan umat manusia yang berasal dari bahan tambang”, suatu pernyataan yang benar adanya :). Komentar berbeda 180 derajat saya dapatkan dari teman-teman yang konsen terhadap lingkungan, mereka berkata “sudah begitu banyak sektor pertambangan merusak lingkungan, sementara kesejahteraan dari hasil tambang tersebut hanya dinikmati oleh sebagian kecil dari golongan atas. Apakah kita masih mau mengorbankan anak cucu kita kelak dengan mewariskan mereka lingkungan yang rusak?”. So….???

Menurut hemat saya, sebenarnya setiap kegiatan pasti akan menimbulkan sisa, karena efisiensi proses yang sempurna hampir tidak mungkin dicapai, karena kesempurnaan itu hanyalah milik allah. sehingga wajar jika ada dampak terhadap lingkungan, akan tetapi tidak lebih bijak jika kita hanya mempertahankan ego sektoral kita masing-masing.

Bagaimana solusinya??, disinilah letak dari keterkaitan antara ilmu lingkungan dengan pertambangan, didalam ilmu lingkungan ada yang dinamakan dengan AMDAL, yaitu suatu analisis mengenai dampak yang ditimbulkan dari suatu kegiatan terhadap lingkungan. mengenai dasar-dasar amdal anda dapat melihat tulisan saya terdahulu . kali ini saya akan membahas dampak lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan, yang nantinya dampak ini lah yang akan dianalisis didalam AMDAL untuk menentukan apakah kegiatan pertambangan tersebut layak lingkungan atau tidak.

mengapa pertambangan perlu AMDAL?

Kegiatan pertambangan yaitu suat kegiatan untuk mengambil bahan galian berharga dari lapisan bumi, Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar pengolahan relatif tidak berubah, yang berubah adalah skala kegiatannya. Mekanisasi peralatan dan teknologi pertambangan telah menyebabkan skala pertambangan semakin besar dan ekstraksi kadar rendah pun menjadi ekonomis sehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus digali. Ini menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang besar dan penting. Dampak besar dan penting itulah yang selanjutnya dikaji didalam AMDAL

Kegiatan pertambangan selain menimbulkan dampak lingkungan, juga menimbulkan dampak sosial kompleks. Oleh sebab itu, AMDAL suatu kegiatan pertambangan harus dapat menjawab dua tujuan pokok (World Bank, 1998):

  1. Memastikan bahwa biaya lingkungan, sosial dan kesehatan dipertimbangkan dalam menentukan kelayakan ekonomi dan penentuan alternatif kegiatan yang akan dipilih.
  2. Memastikan bahwa pengendalian, pengelolaan, pemantauan serta langkah-langkah perlindungan telah terintegrasi di dalam desain dan implementasi proyek serta rencana penutupan tambang.

untuk mengetahui kegiatan apa saja yang wajib untuk melakukan AMDAl dapat dilihat pada Lampiran PERMEN LH NO 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

isu-isu lingkungan akibat kegiatan pertambangan

beberapa saat yang lalu di media massa  diberitakan mengenai kasus pencemaran limbah tailing di sekitar teluk buyat, hal tersebut adalah salah satu contoh isu lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan. United Nations Environment Programme (UNEP, 1999) menggolongkan dampak-dampak yang timbul dari kegiatan pertambangan sebagai berikut:

  • Kerusakan habitat dan biodiversity pada lokasi pertambangan,
  • Perlindungan ekosistem/habitat/biodiversity di sekitar lokasi pertambangan,
  • Perubahan landskap/gangguan visual/kehilangan penggunaan lahan,
  • Stabilisasi site dan rehabilitas,
  • Tailing tambang dan pembuangan tailing,
  • Kecelakaan/ terjadinya longsoran fasilitas tailing,
  • Peralatan yang tidak digunakan , tailing padat, tailing rumah tangga,
  • Emisi Udara dan Debu,
  • Perubahan Iklim,
  • Konsumsi Energi,
  • Pelumpuran dan perubahan aliran,
  • Sungai buangan air tailing dan air asam terkontaminasi dan pemaparan bahan kimia di tempat kerja, masyarakat dan pemukiman tambang,
  • Perubahan air tanah dan kontaminasi,
  • Tailing B3 dan bahan kimia
  • Pengelolaan bahan kimia, keamanan, dan pekerja,
  • Kebisingan,
  • Radiasi,
  • Keselamatan dan kesehata,
  • Toksisitas logam berat,
  • Peninggalan budaya dan situs arkeologi Kesehatan masyarakat di sekitar tambang

(Sumber : Balkau F. dan Parsons A. , 1999)

ruang lingkup kegiatan pertambangan

di dalam AMDAL akan dikaji dampak yang ditimbulkan dari sutau kegiatan pada setiap tahapan, tahap-tahapan tersebut seperti tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi. Didalam pertambangan tahapan-tahapan tersebut adalah:

Kegiatan pertambangan pada umumnya memiliki tahap-tahap kegiatan sebagai berikut:

  1. Eksplorasi
  2. Ekstrasi dan pembuangan tailing batuan
  3. Pengolahan bijih dan operasional
  4. Penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya
  5. Pembangunan infrastuktur, jalan akses dan sumber energi
  6. Pembangunan kamp kerja dan kawasan pemukiman
  7. penutupan tambang

adapun penjelasan dari masing masing tahapan adalah sebagai berikut:

Kegiatan eksplorasi tidak termasuk kedalam kajian studi AMDAL karena merupakan rangkaian kegiatan survey dan studi pendahuluan yang dilakukan sebelum berbagai kajian kelayakan dilakukan. Yang termasuk sebagai kegiatan adalah pengamatan udara, survey geofisika, studi sedimen sungai dan geokimia lain, pembangunan akses, pembukaan lokasi pengeboran, pembuatan landasan dan pembangunan anjungan pengeboran

Ekstraksi dan Pembuangan Tailing Batuan. Lebih dari 2/3 kegiatan ekstraksi bahan mineral dengan pertambangan terbuka dengan teknik open-pit, strip mining, dan quarrying, tergantung bentuk geometris tambang dan mineralnya. Ekstrasi mineral dengan tambang terbuka menyebabkan terpotongnya puncak gunung dan menimbulkan lubang yang besar. Salah satu teknik tambang terbuka adalah metode strip mining (tambang bidang) menggunakan alat pengeruk, dilakukan pada bidang galian yang sempit. Setelah mineral diambil, dibuat bidang galian baru di dekat lokasi galian yang lama. Batuan tailing digunakan untuk menutup lubang yang dihasilkan oleh galian sebelumnya. Teknik tambang seperti ini biasanya digunakan untuk menggali deposit batubara yang tipis dan datar yang terletak didekat permukaan tanah. Tambang bawah tanah digunakan jika zona mineralisasi terletak jauh di dalam tanah sehingga jika digunakan teknik pertambangan terbuka jumlah batuan penutup yang harus dipindahkan sangat besar. Produktifitas tambang tertutup 5 sampai 50 kali lebih rendah dibanding tambang terbuka, karena ukuran alat yang digunakan lebih kecil dan akses ke dalam lubang tambang lebih terbatas.

Ekstraksi menghasilkan tailing dan produk samping sangat banyak dengan total limbah yang diproduksi bervariasi 10 % sampai sekitar 99,99 % dari total bahan yang ditambang. Limbah utama yang dihasilkan adalah batuan penutup dan tailing batuan. Batuan penutup (overburden) dan tailing batuan adalah lapisan batuan yang tidak mengandung mineral atau mengandung mineral dengan kadar rendah sehingga tidak ekonomis untuk diolah.

Hal-hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian dalam menentukan besar dan pentingnya dampak lingkungan pada kegiatan ekstraksi dan pembuangan tailing adalah:

Luas dan kedalaman zona mineralisasi, Jumlah batuan yang akan ditambang dan dibuang akan menentukan lokasi dan desain penempatan tailing, Kemungkinan toksisitas tailing, Potensi terjadinya air asam tambang, Dampak terhadap kesehatan dan keselamatan yang berkaitan dengan kegiatan transportasi, penyimpanan dan penggunaan bahan peledak dan bahan kimia racun, bahan radio aktif di kawasan penambangan dan gangguan pernapasan akibat pengaruh debu, Sifat-sifat geoteknik batuan dan kemungkinan untuk penggunaannya untuk konstruksi sipil (seperti untuk landscaping, tailing dam), Pengelolaan (penampungan, pengendalian dan pembuangan) lumpur (untuk pembuangan overburden berasal dari penambangan dredging dan placer), Kerusakan bentang lahan dan keruntuhan akibat penambangan bawah tanah, Terlepasnya gas methan dari tambang batubara bawah tanah.

Pengolahan Bijih dan Pabrik Pengolahan ini tergantung pada jenis mineral yang diambil, umumnya adalah proses benefication –bijih diproses menjadi konsentrat bijih- atau selanjutnya diikuti dengan pengolahan metalurgi dan refining. Proses benefication umumnya terdiri dari kegiatan persiapan, penghancuran dan atau penggilingan, peningkatan konsentrasi dengan gravitasi, magnetis atau flotasi, diikuti dengan dewatering dan penyaringan. Hasil dari proses ini adalah konsentrat bijih dan tailing dan emisi debu. Tailing biasanya mengandung bahan kimia sisa proses dan logam berat. Pengolahan metalurgi bertujuan untuk mengisolasi logam dari konsentrat bijih dengan metode pyrometallurgi, hidrometalurgi atau elektrometalurgi. Pyrometalurgi seperti roasting dan smelting menyebabkan gas buang (sulfur dioksida, partikulat dan logam berat) dan slag. Hidrometalurgi menghasilkan pencemar cair yang akan terbuang ke kolam penampung tailing jika tidak digunakan kembali (recycle).

Bahan-bahan kimia yang digunakan di dalam proses pengolahan (sianida, merkuri, dan asam kuat) bersifat hazard. Pengangkutan, penyimpanan, penggunaan dan pembuangannya memerlukan pengawasan ketat untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap kesehatan dan keselamatan serta mencegah pencemaran ke lingkungan.

Penampungan Pengolahan dan Pembuangan Tailing. Pengelolaan tailing merupakan salah satu aspek kegiatan pertambangan yang menimbulkan dampak lingkungan sangat penting. Tailing berbentuk lumpur berkomposisi 40-70% cairan. Penampungan, pengolahan dan pembuangan tailing memerlukan pertimbangan yang teliti terutama untuk kawasan yang rawan gempa. Kegagalan desain dari sistem penampungan tailing akan menimbulkan dampak yang sangat besar. Pengendalian pembuangan tailing harus memperhatikan pencegahan timbulnya rembesan, pencegahan erosi oleh angin, dan mencegah pengaruhnya terhadap fauna. Isu-isu penting yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi alternatif pembuangan tailing meliputi:

  • Karakteristik geokimia area dan potensi migrasi lindian dari tailing.
  • Kerawanan bencana alam yang mempengaruhi keamanan lokasi dan desain teknis.
  • Konflik penggunaan lahan terhadap perlindungan ekologi peninggalan budaya, pertanian serta kepentingan lain. –
  • Karakteristik kimia pasir, lumpur, genangan air pengolahannya.
  • Reklamasi setelah pasca tambang.

Pembangunan infrastruktur jalan akses dan pembangkit energi. Kegiatan pembangunan infrastruktur meliputi pembuatan akses di dalam daerah tambang, pembangunan fasilitas penunjang pertambangan, akomodasi tenaga kerja, pembangkit energi baik untuk kegiatan konstruksi maupun kegiatan operasi dan pembangunan pelabuhan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembangunan sistem pengangkutan di kawasan tambang (crusher, belt conveyor, rel kereta, kabel gantung, pipa pengangkut tailing).

Pembangunan Pemukiman Karyawan Dan Base Camp Pekerja. Kebutuhan tenaga kerja dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk kegiatan pertambangan seringkali tidak dapat dipenuhi dari penduduk setempat. Tenaga kerja trampil perlu didatangkan dari luar, dengan demikian diperlukan pembangunan infrastruktur yang sangat besar. Jika jumlah sumberdaya alam dan komponen-komponen lingkungan lainnya sangat terbatas sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pendatang, sumberdaya alam akan mengalami degradasi secara cepat. Akibatnya akan terjadi konflik sosial karena persaingan pemanfaatan sumber daya alam. Sebagai contoh, kegiatan pertambangan seringkali dikaitkan dengan kerusakan hutan, kontaminasi dan penurunan penyediaan air bersih, musnahnya hewan liar dan perdagangan hewan langka, serta penyebaran penyakit menular.

Decomisioning dan Mining Closure. Setelah ditambang dan cadangan bijih dianggap tidak ekonomis lagi, tambang harus ditutup. Penutupa tambang ini banyak yang tidak mempertimbangkan aspek lingkungan sehingga tambang ditelantarkan dan tidak ada usaha untuk rehabilitasi. Pada prinsipnya kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan harus dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif melalui rehabilitasi. Kondisi akhir rehabilitasi dapat diarahkan untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau kondisi lain yang telah disepakati.. Reklamasi seharusnya merupakan kegiatan yang terus menerus dan berlanjut sepanjang umur pertambangan. Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape) yang stabil terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi tambang ke kondisi yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif. Yang tergantung pada berbagai faktor antara lain potensi ekologis lokasi tambang dan keinginan masyarakat serta pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah direhabilitasi harus dipertahankan agar tetap terintegrasi dengan ekosistem bentang alam sekitarnya

credit to:

www.google.com (for picture)

prof. Rudi Sayoga Gautama ( dosen AMDAL pertambangan-T.Pertambangan- ITB)

Teman-teman kelompok AMDAL pertambangan,Joint Program Master Degree UGM-ITB