Membakar bahan bakar (gambut)

12065631_10206252136476787_8418751262830368778_n

Segitiga Api

Dari banyak kesempatan wawancara kerja yang saya lewati saat dulu masih menjadi seorang jobseeker, sepertinya pertanyaan tentang dasar-dasar kebakaran termasuk konsep segitiga api menjadi salah satu menu favorit yang selalu ditanyakan kepada para pelamar kerja di bidang HSE (Health safety and environment). Cukup beralasan mengingat kebakaran didalam dunia safety menjadi salah satu hal yang sangat dihindari. Sebagai seseorang yang nantinya akan berurusan dengan keselamatan tentu pengetahuan dasar terkait hal tersebut menjadi mutlak untuk dikuasai.

Konsep Segitiga Api

Konsep segitiga api secara singkat dapat dijelaskan sebagai hubungan antar elemen yang mendukung terbentuknya api (1). Setiap sisi dari segitiga tersebut mewakili elemen pembentuk api yang terdiri dari (1) Bahan bakar; (2) Energi panas; dan (3) Oksigen. Jika ketiga komponen tersebut bertemu maka sudah cukup untuk menimbulkan pijaran api. Sedangkan kebakaran merupakan nyala api yang lebih besar dan tidak dapat dikendalikan. Proses terjadinya kebakaran memerlukan satu komponen lain sebagai pemicu disamping tiga komponen dalam segitiga api, komponen tersebut adalah rantai reaksi.
Jika komposisi dari setiap elemen didalam segitiga api masih berimbang maka nyala api akan sulit dihentikan. Sebaliknya jika salah satu elemen berkurang maka api akan mudah dipadamkan. Sehingga dengan mempertimbangkan hubungan antar elemen didalam konsep segitiga api tersebut dibuatlah beberapa teknik dasar untuk pemadaman api dengan cara menyingkirkan salah satu dari ketiga elemen tersebut (2). Adapun teknik-teknik pemadaman api secara singkat adalah sebagai berikut:
  1. Pendinginan (cooling), teknik pemadaman dilakukan dengan cara menurunkan suhu dengan cara menyerap panas dari bahan bakar yang terbakar. Secara teori suatu bahan dapat menyala jika terlampai titik nyalanya (flash point). Titik nyala merupakan suhu terendah pada suatu bahan sehingga dapat menyala, sehingga dengan menyerap panas pada bahan tersebut maka suhu akan turun hingga dibawah titik nyala dan pembakaran akan terhalang. Aplikasi teknik ini contohnya adalah dengan menyemprotkan air pada kayu yang terbakar.
  2. Mengurangi atau memisahkan bahan bakar, teknik ini dikenal juga dengan istilah starvation, secara singkat pemadaman dilakukan dengan cara mengurangi persediaan bahan bakar sehingga dapat memutus rantai api. Menutup kebocoran pipa bahan bakar atau menyingkirkan bahan yang terbakar merupakan beberapa contoh pemadaman yang menggunakan teknik ini.
  3. Smoothering, berarti menyelimuti atau membatasi kontak antara oksigen dengan bahan yang terbakar. Misalnya dengan menyemprotkan foam (busa pemadam) api terhadap kebakaran minyak. Beberapa praktisi HSE berpendapat teknik ini hampir sama dengan teknik dillution atau pengenceran. Gas CO2 disemprotkan pada daerah yang terbakar sehingga dapat menurunkan konsentrasi oksigen dan memutus rantai kebakaran.
  4. Breaking chain reaction, terkadang beberapa bahan yang terbakar juga menghasilkan gas lain dan juga radikal radikal bebas seperti OH- dan H+ yang sangat mudah berekasi membentuk oksigen. Teknik pemadaman dilakukan dengan cara memutuskan rantai reaksi kimia/reaksi pembakaran, atau dengan menangkap radikal bebas agar tidak dapat melanjutkan proses pembakaran. Contohnya berupa penyemprotan menggunakan dry chemical (bubuk bahan kimia).

Tanah Gambut t̶i̶d̶a̶k̶ mudah terbakar

Informasi terkait segitiga api diatas sengaja saya selipkan di awal sebagai intro topik utama tulisan saya terkait bencana asap yang dipicu dari k̶e̶b̶a̶k̶a̶r̶a̶n̶ pembakaran lahan gambut yang semakin parah dalam kurun dua bulan terakhir. Tanah gambut dikenal juga sebagai rawa atau peatland merupakan suatu ekosistem lahan basah yang terbentuk dari proses penimbunan dan akumulasi bahan-bahan organik di lantai hutan yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama (ribuan tahun). Timbunan bahan organik yang kaya lignin dan sellulosa (bahan dasar pembentuk kayu) ini dapat membentuk lapisan gambut setebal 1-8 meter. Akumulasi ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi (penguraian) dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di lantai hutan yang basah/tergenang tersebut (3).
Gambut memiliki porositas yang tinggi sehingga mempunyai daya menyerap air yang sangat besar (4). Dalam keadaan jenuh lapisan gambut dapat menampung air berturut-turut sebesar 450%, 450 – 850%, dan lebih dari 850% dari bobot keringnya atau hingga 90% dari volumenya. Karena sifatnya yang mirip spons busa itu, maka sebenarnya pada kondisi alami lahan gambut tidak mudah terbakar. Selain tidak mudah terbakar, lahan juga dapat berfungsi sebagai pengatur hidrologi (3), gambut memiliki kemampuan sebagai penampung (reservoir) air tawar yang cukup besar sehingga dapat menahan banjir saat musim hujan dan sebaliknya melepaskan air tersebut pada musim kemarau sehingga dapat mencegah intrusi air laut ke darat.
Sayangnya fungsi ekologis lahan gambut menjadi terganggu akibat pembukaan lahan yang sembrono tanpa memperhatikan sifat-sifat alami gambut. Pembuatan kanal-kanal berdimensi lebar dan berlebihan secara langsung dapat menguras kandungan air didalam gambut. Celakanya material gambut memiliki sifat kering tak balik, dengan kata lain sulit menyerap air kembali saat sudah terlanjur kering (5). Gambut yang telah mengalami kekeringan sampai batas kering tak balik, akan memiliki bobot isi yang sangat ringan, sehingga mudah hanyut terbawa air hujan. Ikatan struktur gambutnya pun menjadi lolos mudah lepas sehingga tumpukan bukit gambut pun berangsur menjadi kempes dan rentan terbakar. Kondisi tersebut diperparah dengan lapisan gambut yang luar biasa tebal, maka gambut kering tadi selain menjadi bahan yang mudah terbakar, juga akan terus tersedia sebagai bahan bakar.

Foto ketebalan gambut sumber http://www.aarsb.com.my/problem-soils-managing-deep-peat

Memadamkan api di lahan gambut

Kebakaran di tanah gambut sangat sulit untuk dipadamkan karena kandungan bahan organik (karbon) yang tinggi didalam gambut membuat bara api masih bisa terus berpijar. Selain itu daya hantar hidrolik vertikal yang rendah (6) membuat bara api yang berada dilapisan paling dalam susah untuk dipadamkan menggunakan air. Ditambah lagi dengan fenomena El Nino yang membuat musim kemarau makin panjang semakin meningkatkan resiko kebakaran lpada lahan gambut, bahkan hanya dengan cuaca panas saja sudah cukup untuk memicu terjadinya kebakaran.
Kebakaran lahan gambut dapat dihindari jika kelembaban tanah gambut terjaga dengan baik. Sebuah studi oleh Wosten dkk (2008) (7) mengulas hubungannya antara kandungan air dan resiko kebakaran pada lahan gambut di daerah alisar Sungai Sabangau Kalimantan Tengah.

Gambar lokasi studi sumber http://180.235.150.225/iccc/media/documents/Paper3.pdf

Secara singkat, studi tersebut memodelkan level kedalaman muka air tanah didalam lahan gambut berdasarkan pada parameter komplek seperti ketebalan lapisan gambut, laju pergerakan air tanah dan parameter hidrolis lainnya. Model ini juga menggunakan data pengukuran muka air tanah selama kurun waktu tahun 1994-2001 sebagai pembanding. Dengan bantuan software GIS (geographic information system) selanjutnya data elevasi muka air tanah tersebut digabungkan dengan data-data lain seperti data tropografi, tingkat curah hujan dan hasil analisis resiko kebakaran lahan. Sehingga pada akhirnya diketahui jika kedalaman muka air tanah sebesar 40 cm dibawah permukaan tanah menjadi titik kritis terjadinya resiko kebakaran lahan. (8)

Titik kedalaman kritis terjadinya resiko kebakaran (40 cm dibawah permukaan tanah) sumber http://www.splu.nl/restorpeat/download/Wosten/Wosten+Ritzema-Water%20management%20for%20fire%20prevention%20and%20for%20vegetation%20restoration.pdf

Untuk menggambarkan hubungan kedalaman muka air tanah dan resiko kebakaran lahan maka model tersebut mensimulasikan hasil sebagai berikut:
  • Pada tahun basah area dengan resiko kebakaran lahan (kedalaman muka air tanah dibawah 40 cm dari permukaan tanah, atau warna merah) sebesar 2% dari keseluruhan lokasi.
  • Model menujukkan sebanyak 18% area beresiko tinggi terhadap kebakaran lahan
  • Sedangkan pada tahun kering sebanyak 40% dari area beresiko terhadap kebakaran lahan.

Visualisasi model terhadap resiko kebakaran lahan berdasarkan variasi kedalaman muka air tanah setiap tahun sumber http://www.splu.nl/restorpeat/download/Wosten/Wosten+Ritzema-Water%20management%20for%20fire%20prevention%20and%20for%20vegetation%20restoration.pdf

Jika disimulasikan berdasarkan bulan maka akan didapatkan hasil sebagai berikut:
  • Bulan Juni, Agustus, September, Oktober resiko kebakaran lahan lebih dari 40%.
  • Bulan September dan Oktober (musim kering, dimana curah hujan kurang dari 50 mm per bulan) resiko kebakaran mencapai 91% dari total area studi.

Visualisasi model terhadap resiko kebakaran lahan berdasarkan variasi kedalaman muka air tanah dalam jangka satu tahun sumber http://www.splu.nl/restorpeat/download/Wosten/Wosten+Ritzema-Water%20management%20for%20fire%20prevention%20and%20for%20vegetation%20restoration.pdf

Studi tersebut menegaskan jika model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa resiko kebakaran lahan gambut, membantu menentukan lokasi lahan gambut yang kritis dan perlu segera dikelola. Yang paling penting model terebut sejatinya bisa cukup membantu pengambilan keputusan di ranah pemerintahan terkait alih fungsi lahan gambut disamping produk hukum lain berupa undang-undang dan peraturan pemerintah. Sifat lahan gambut yang unik dan susah balik (sukar untuk di restorasi jika sudah kering) memerlukan penanganan khusus. Dibagian akhir, studi ini menyoroti ketimpangan wewenang pengelolaan gambut di sektor pemerintahan, kurangnya koordinasi antar kementerian di Indonesia,dan juga lemahnya penegakan hukum menjadi peluang yang masih bisa dilakukan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut kedepan.
Jika mengacu pada hasil studi diatas maka pemadaman api pada saat ini (bertepatan dengan curah hujan yang sangat rendah akibat fenomena El Nino) cukup sulit untuk dilakukan secara cepat. Kondisi tanah gambut yang kering, membuat muka air tanah semakin dalam dibawah level kritis (40 cm). Praktis penanggulangan kebakaran gambut hanya bisa dilakukan dengan cara: pendinginan (menghilangkan panas) menggunakan air, dan atau memutus rantai reaksi kebakaran dengan bantuan bahan kimia pemadam api (flame retardant).
Penurunan panas yang sering dilakukan adalah dengan mebasahi lapisan gambut yang terbakar dengan air. Saluran drainase dibuat dari badan sungai menuju area gambut yang terbakar atau bisa juga dengan menggunakan sistem pompa. Namun pengaliran air melalui saluran drainase harus tetap melalui perhitungan yang cermat dan tepat, jika tidak maka dikhawatirkan saluran drainase bisa menjadi bumerang reusaknya kondisi hidrologi di area terbakar (9). Kombinasi pemadaman dengan bom air mestinya bisa lebih digalakkan meskipun berimbas pada besarnya biaya operasional.

Pemadaman api menggunakan bom air yang dilakukan oleh tim dari BNPB

Tugas pemerintah untuk memadamkan api
Sekali lagi yang perlu kita ingat bahwa pemadaman kebakaran hanyalah tindakan kuratif (penyembuhan sementara), kebakaran masih mungkin untuk terjadi lagi jika faktor pendorong terjadinya pembakaran tidak bisa dikontrol. Faktor tersebut berupa pembukaan lahan dengan cara membakar, pemerintah memang sudah seharusnya menindak tegas para pengusaha dan korporasi nakal yang masih menggunakan cara tersebut sebagai tindakan preventif (pencegahan).
Mengapa pemerintah hanya perlu bertindak tegas? karena sebenarnya payung hukum pengelolaan lahan gambut sudah ada bahkan sudah diterjemahkan hingga detil teknisnya. Didalam Peraturan Pemerintah No 71 tahun 2014 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut misalnya secara gamblang disebutkan jika ekosistem gambut yang mempunyai ketebalan 3 meter atau lebih, termasuk kedalam kawasan dungsi lindung ekosistem gambut. Melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut sudah cukup untuk dijatuhan hukuman pidana.
Sehingga jika saat ini kita melihat mendengar dan membaca berbagai curhatan masyarakat yang menuntut pemerintah untuk segera bertindak cepat rasanya masih cukup wajar. Secara nyata kondisi asap pekat sangat mengganggu kesehatan dan kenyamanan rakyat. Sungguh iba jika melihat foto-foto yang diunggah oleh rekan dimedia sosial, terlebih lagi kampung halaman saya ditengah perkebunan sawit jauh di pedalaman Pekanbaru yang juga menjadi salah satu daerah terdekat dengan titik api.

Foto kondisi kebakaran dan kabut asap (Bjorn Vaughan, BBC) http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151019_majalah_bjorn_haze_kalimantan

Meskipun demikian, cukup disayangkan saat kita menuntut pemerintah namun tanpa sadar diri bahwa bencana kabut asap ini adalah bencana lingkungan hasil dari apa yang kita tanam bersama. Bisa jadi perusahaan pembakar adalah tempat dimana kita mencari nafkah? Para pejabat korup adalah rekan dan kolega yang sering kita banggakan, atau bahkan kita sendiri yang bergantung hidupnya kepada hasil sawit. Bukanlah hal yang bijak jika kita hanya bisa menuntut bahkan mencaci pemerintah. Saya yakin jika pemerintah masih terus berusaha sekuat tenaga dalam mengaggulangi bencana ini, terus mencaci setiap hari tidak akan merubah keadaan justru menimbulkan rasa benci dan sakit hati.
Kita jadikan apa yang menimpa ini sebagai bahan renungan bagi kita semua, mungkin saatnya kita sadar jika pembangunan haruslah berorientasi kepada lingkungan. Memperhatikan kesetimbangan dan daya dukung lingkungan, jika keserakahan dikedepankan maka kerusakan lingkungan adalah suatu keniscayaan.
  • Bagi pengusaha perusak lingkungan, kita harus ingat jika ongkos lingkungan dari suatu kegiatan akan semakin besar dan susah untuk dibayar jika kita tidak sadar sejak awal. Entah saat ini atau dimasa datang kelak kita akan membayarnya. Jika perusahaan kedapatan membakar lahan sudah seharusnya mereka lah yang paling bertanggung jawab termasuk dalam hal pembiayaan operasional pemadaman kebakaran. Biaya yang tidak sedikit bukan? bahkan mungkin saja perusahaan-perusahaan tersebut bisa gulung tikar.
  • Bagi masyarakat barangkali kita tidak sadar selama ini kita lebih mengejar nilai ekonomi, mendapatkan uang secepat-cepatnya tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan ke depan. Kebun sawit mungkin manis diawal, namun saat harga jual terus anjlok akibat resesi ekonomi sementara asap tak kunjung reda sungguh hal yang memilukan. Tidak ada artinya uang bagi kita jika udara harus membeli, air pun harus mengantri.
  • Bagi pejabat daerah sudah saatnya untuk sadar, apa rasanya memiliki mobil mewah, rumah mewah dalam kepungan asap, bahkan tempat favorit berlibur ke negara tetangga pun berasap. Cukup sudah untuk mengumbar izin lingkungan terhadap perkebunan-perkebunan baru, analisis dampak lingkungan (AMDAL) bertujuan untuk mengevaluasi apakah dampak lingkungan dari suatu kegiatan dapat diakomodir dan dapat dikelola. Ataukah memang AMDAL sekedar AMDAL JEPIT.
  • Bagi pemerintah pusat ini saatnya untuk menunjukkan peran lebih kepada masyarakat, 100 hari pemerintahan Jokowi-JK dengan berbagai janji politik pro rakyat masih terus ditunggu reaslisasinya. Penyederhanaan birokrasi dengan penggabungan kementerian lingkungan hidup dan kehutanan seharusnya dapat lebih mempercepat proses penanganan di lapangan. Sudah banyak sekali diterbitkan instrumen pendukung mulai dari moratorium izin baru dan tata kelola hutan gambut; Strategi nasional pengelolaan lahan gambut berkelanjutan; hingga KPK yang bisa saja terus didukung untuk mengawasi tikus-tikus berdasi dalam konspirasi alih fungsi hutan. Semuanya ada, bahkan teknologi pun kita bisa hanya tinggal political will saja?

Daftar Bacaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *