Mendaki Gunung Fuji

11953551_10205921021479119_8945782123855902816_o

Pesona Fujisan

Kokoh, tinggi menjulang, rona putih di puncaknya tampak kontras ditengah warna langit yang biru gelap. Pemandangan itu masih ditambah dengan mekarnya bunga sakura di sekelilingya semakin sempurna sebagai lukisan alam yang membuat mata seolah tak bosan untuk menatapnya. Seperti itulah orang-orang menggambarkan keindahan dataran tertinggi di negara matahari terbit ini, Gunung Fuji(3776 Mdpl). Tak heran jika mencapai puncak Gunung Fuji sudah tertulis sejak awal dalam  daftar keinginan saya ketika memutuskan untuk studi lanjut di Jepang.

Namun saya masih harus menahan keinginan untuk dapat segera mendaki Gunung Fuji, karena pendakian tidak bisa dilakukan disembarang waktu. Pendakian Gunung Fuji hanya dibuka untuk umum pada awal Juli hingga pertengahan September. Diluar waktu tersebut puncak Gunung Fuji tertutup oleh salju sehingga hanya kalangan profesional saja yang mungkin bisa mendapatkan izin untuk mendaki. Setahun menunggu ternyata summer 2014 bertepatan dengan bulan ramadhan, apa daya? saya pun lebih memilih untuk menjaga puasa dan menunda kembali rencana pendakian hingga tahun depan.

Meski dengan keinginan memuncaki Gunung Fuji yang begitu kuat, lucunya persiapan pendakian kali ini malahan tidak terlalu menyita waktu dan membutuhkan persiapan fisik khusus dibanding pendakian saya sebelum-sebelumnya. Mengapa begitu? kesibukan saya sebagai mahasiswa doktoral menjadi alibi yang utama. Selain itu terkait persiapan fisik saya tidak terlalu khawatir, karena disini saya harus bersepeda menempuh jarak tak kurang dari 15 km menuju kampus setiap harinya. Otomatis persiapan pendakian hanya berupa pengumpulan informasi melalui internet, sebagai salah satu gunung yang paling ramai untuk didaki tentu sudah tersedia informasi yang cukup lengkap. Berikut beberapa laman internet (situs/blog) yang mungkin bisa dijadikan referensi sebelum rekan pembaca mendaki Gunung Fuji.

Website resmi Gunung Fuji (all in one, lengkap sebagai referensi)

Webiste untuk peralatan yang wajib dibawa mendaki Gunung Fuji (juga sebagai tour agent)

Website (bahasa Jepang) petunjuk praktis mendaki Gunung Fuji bagi pemula (dilengkapi juga dengan video footage)

Website Data GPS tracking untuk Gunung Fuji (bagi yang membutuhkan data GPS)

Pada bulan Agustus ini akhirnya rasa ingin yang tak tertahankan itu dapat sedikit berkurang, saya positif dapat berangkat mendaki Gunung Fuji pada pertengahan bulan. Namun apa enaknnya mendaki gunung sendirian?, tak ada teman berbagi cerita, tak ada canda dan tawa di perjalanan, belum lagi stigma saya terhadap orang-orang jepang yang sedikit bicara sudah dipastikan perjalanan akan sangat membosankan. Akhirnya melalui grup socmed saya menawarkan untuk mendaki bersama. Gayung pun bersambut, ada delapan orang rekan saya sesama penerima beasiswa LPDP yang tertarik untuk mendaki Gunung Fuji. Cukup khawatir juga karena tidak semua dari kami pernah bertatap muka secara langsung, namun pada akhirnya kami bisa mengkoordinir persiapan keberangkatan dengan baik. Tim kami beranggotakan; Naufal; Jaka; Wike dan Olin dari Hokkaido University, Adis dari Tohoku University, lalu ada Bill dan Tommy dari Nagoya University, Suryo mahasiswa Tokyo University dan saya sendiri yang paling jauh dari Hiroshima University. Dengan berbagai pertimbangan kami akhirnya kami memastikan untuk mendaki pada tanggal 22-23 Agustus 2015 melalui jalur Yoshida dengan meeting point di Shinjuku (Tokyo).

The Team

Jalur Pendakian Gunung Fuji

Sebenarnya ada empat pilihan jalur yang bisa ditempuh menuju puncak fuji yaitu (1) Yoshida (2) Subashiri (3) Gotemba dan (4) Fujinomiya. Dari informasi lama resmi Gunung Fuji, kira-kira karakteristik dari setiap jalur seperti dirangkum pada tabel berikut:

Karakteristik Jalur Pendakian Gunung Fuji (Sumber website resmi Gn.Fuji)

Bagi saya yang tinggal di selatan Jepang (Hiroshima) lebih mudah mendaki melalui jalur Fujinomiya, karena terdapat dilewati oleh jalur Tokaido shinkanshen sehingga aksesnya lebih dekat. Namun dengan anggota tim yang berasal dari seluruh penjuru Jepang dari tengah (Tokyo) hingga utara (Hokkaido) akhirnya kami lebih memilih untuk mendaki melewati jalur Yoshida. Jalur yang cukup padat namun mudah kata orang-orang, sebuah keuntungan juga bagi kami karena banyak dari anggota tim yang baru pertama kalinya mendaki ataupun melakukan kegiatan alam bebas.

Shinjuku Bus station (Tokyo) to 5th station (Gogomei/Fuji Subaru)

Perjalanan dari Shinjuku menuju 5th station (pos 5) ditempuh dalam waktu lebih kurang 3 jam menggunakan bus express. Dengan tarif 2700¥/orang, bus yang kami naiki dirasa cukup nyaman, tempat duduk yang lebar, full ac dan terdapat toilet dibagian belakang. Untuk pemesanan bus bisa dilakukan secara online jauh sebelum hari keberangkatan (klik link ini untuk bahasa Inggris). Saran kami segeralah memesan bus setelah rencana perjalanan ditetapkan, apalagi pada hari libur dan weekend banyak sekali yang berangkat mendaki dari tokyo menggunakan express bus sehingga sering tidak ada bangku tersisa.

DSCN0005

Express Bus menuju 5th station (Foto untuk visualisasi sumber)

5th station (Gogomei/Fuji Subaru)

Pukul 17.00 kami tiba di 5th station, luar biasa ramai, banyak sekali pengunjung lokal maupun asing lalu-lalang di sekitaran. Sebagian dari mereka bahkan hanya bertujuan datang ke 5th station saja tanpa niatan untuk mendaki hingga puncak Fuji. Cukup beralasan karena latar belakang Gunung Fuji terlihat amat jelas pada di area 2300 mdpl ini, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan landscape tersebut untuk sekedar ber-selfie ria.  Di pos 5 ini terdapat tourist information center yang disediakan pengelola, beberapa petugas terlihat sibuk membagikan pamflet, peta perjalanan bahkan kuesioner bagi para pendaki demi mendapatkan umpan langsung dari pengguna terhadap pelayanan yang mereka lakukan, luar biasa!. Selain itu terdapat plaza yang dilengkapi dengan ruang tunggu, kantin dan juga toilet yang dapat digunakan secara cuma-cuma oleh para pengunjung.

Dibandingkan dengan tiga jalur lainnya, jalur yoshida merupakan jalur yang paling ramai dikunjungi dan paling mudah di akses dari jantung kota Tokyo. Sehingga sudah barang tentu fasilitas di jalur ini juga lebih lengkap dibandingkan yang lain. Bagi anda yang ingin berburu cinderamata jangan khawatir karena disekitaran juga berjajar berbagai toko souvenir khas gunung Fuji yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Fasilitas lengkap dan teratur ini membuat saya benar-benar merasa tak jauh berbeda berada didalam sebuah mall.

Suasana ramai para pendaki di 5th station Fuji-subaru

Kami memilih untuk berkumpul di salah satu sudut toko karena di area boulevard sedikit sesak dengan rombongan lain yang juga bersiap untuk berangkat mendaki. Sungguh cuaca pegungungan yang sukar diprediksi, sempat turun kabut tipis yang membuat kami sedikit khawatir akan perjalanan kami kedepan. Untungnya setelah beberapa saat menunggu sembari pemanasan dan berkemas kabut berangsur menghilang, cuaca cerah seakan mempersilahkan kami untuk berangkat.

Kami bersiap sebelum memulai pendakian

5th station to 6th station

Pukul 18.00 kami mulai meninggalkan 5th sation menyusuri rimbunnya pepohonan layaknya payung alami senja itu. Kami berjalan dengan kecepatan sedang karena disni naik dan turun masih berada dalam satu jalur. Sesekali kami melirik wajah-wajah letih dan lesu para pendaki yang telah berhasil mencapai puncak. Well, belum ada sedikitpun rasa sesal kami atau keinginan untuk kembali ke bawah karena memang jalan yang kami lewati cukup landai, Sekitar tiga puluh menit berjalan, pohon rindang berganti dengan semak belukar, pada sisi kiri dibatasi oleh tebing terjal namun masih cukup aman karena terdapat pagar sling besi sepanjang jalan. Badan jalan cukup lebar dibandingkan dengan jalur pendakian di Indonesia pada umumnya, dengan lebar lebih kurang 4 meter yang sudah diperkeras dengan pasir dan batu sangat nyaman untuk dilalui. Bahkan mungkin lebih baik dibandingkan beberapa jalan desa di Indonesia (sorry to say). Tebing di sisi kanan jalan juga sudah dibuat semacam dinding penahan tanah dari pasangan batu setinggi 1,5 m untuk mencegah terjadinnya longsoran, sungguh menjadi sebuah jalur pendakian terbaik yang pernah saya daki selama ini.

Perjalanan dimulai

Jalur yang telah diperkuat dengan pasir dan batu, lebar badan jalan sekitar 4 meter

Sekitar pukul 18.40 kami mencapai pos 6, matahari sudah tenggelam dan kami pun memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat, bagi kami yang muslim kami menggunakan kesempatan ini untuk melaksakan sholat maghrib & isya secara jama’. Ketinggian 2390 mdpl di pos 6 membuat suhu udara semakin dingin beberapa rekan terlihat mulai mengenakan jaket dan juga head lamp sebagai alat bantu penerangan.

6th station to 7th station

Pendakian sesungguhnya dimulai dari sini. Dengan penglihatan yang masih harus beradaptasi terhadap cahaya dari head lamp ditengah gelap, sempat membuat rombongan kami menuju jalur yang salah. Ya, disebuah persimpangan kami malah menyusuri jalur turun. Cukup sulit dibedakan karena jalurnya sama-sama dibuat melingkar searah kontur tebing. Beruntung kami segera sadar dan kembali melakukan re-orientasi medan, meski kami tak jauh melenceng hanya sekitar 10 menit perjalanan kembali ke persimpangan awal namun paling tidak hal itu menjadi peringatan bagi kami untuk tetap fokus. Hilang fokus saat berada dalam kegiatan alam bebas bisa fatal akibatnya, meski hanya dalam hitungan yang singkat.

Jalur diantara batuan terjal menuju pos 7

Setelah sepertiga perjalanan jalur pasir batu berangsur berubah menjadi batuan vulkanis beku. Tanjakan terjal membuat kami harus setengah merangkak, bahkan tak jarang kami temui sudut batu yang cukup tajam beruntung kami sudah mempersiapkan diri menggunakan sarung tangan sehingga tidak ada yang terluka. Waktu menunjukkan pukul 20.51 perut terasa mulai lapar, kami menepi dan beristirahat dibalik bebatuan untuk makan malam. Berada di alam terbuka, beralaskan tanah beratapkan cahaya bulan bintang sambil menyantap bekal, sungguh hal yang tak biasa dilakukan sebelumnya. Suapan demi suapan terasa nikmat bagi kami meski hanya onigiri (nasi kepal) dan telur rebus, diselingi canda dan tawa cukup ampuh menjadi pengusir dinginnya cuaca Fuji yang tercatat sekitar 11 derajat saat itu. Setelah dirasa cukup, kami harus segera bergerak agar suhu tubuh tidak kembali menjadi dingin. Satu jam berikutnya kami pun mencapai pos 7 di ketinggian 2700 mdpl pada pukul 22.30.

7th station to 8th station

Medan semakin sulit seiring dengan bertambahnya ketinggian, sementara itu kadar oksigen pun mulai menipis, terlihat beberapa pendaki mulai membuka oxygen can mereka untuk mengurangi rasa pusing dikepala akibat kurangnya suplay oksigen dalam darah atau yang sering dikenal sebagai mountain sickness. Untuk alasan safety kami pun sudah membekali diri dengan membawa beberapa botol oxygen, bukan suatu keharusan memang karena disepanjang jalan banyak ditemui kios kecil yang menjualnya termasuk juga air, dan makanan kecil. Namun paling tidak persiapan yang cukup sebelumnya bisa meningkatkan tingkat kepercayaan diri dan mendukung suksesnya perjalanan.

Kondisi salah satu penginapan di jalur pendakian (untuk visualisasi sumber)

Selain kios, di sepanjang perjalanan kami juga melewati pondok-pondok yang memang disediakan untuk menginap. Mereka mengenakan tarif bervariasi dari 5000 hingga 8000¥, cukup mahal mengingat kita hanya hanya disediakan kantung tidur dengan kamar yang sempit. Beberapa rekan tampat mulai kepayahan mendaki, namun kami hanya mencuri waktu dengan istirahat di depan pondok tidak memutuskan untuk masuk kedalam.Keputusan yang cukup nekat memang, otomatis kami akan melakukan perjalanan hampir 8 jam tanpa istirahat hingga puncak. Namun keputusan tersebut bukannya tanpa alasan. Bagi kami ada beberapa motivasi yang mendorong kami untuk terus berjalan.

Yang pertama adalah (sunrise), diperkirakan sunrise akan muncul pada pukul 04.30 sementara dengan kondisi kami saat ini diperkirakan kami akan mencapai di pos 8 pada pukul 01.00. Masih butuh waktu 2-3 jam untuk mencapai pos 9 (rencana menikmati sunrise), sehingga demi alasan tersebut berhenti di penginapan bukanlah menjadi pilihan.

Antrian pendaki selama di perjalanan

Alasan yang kedua adalah (banyak waktu berhenti), lamanya waktu perjalanan dikarenakan arus pendaki yang cukup padat, secara hitungan kasar mungkin kita berjalan 10 langkah dan berhenti menunggu sepuluh langkah berikutnya baru kembali berjalan. Sehingga banyaknya waktu berhenti tersebut masih bisa kita gunakan untuk sejenak mengambil nafas. Kalkulasi kami ternyata tidak jauh meleset, masih sesuai dengan perkiraan. Pukul  01.24 kami mencapai ketinggian 3.250 mdpl di pos 8. Setelah kami review, kelebihan waktu 30 menit dari rencana awal dikarenakan kami berjalan lebih lambat. Istirahat (berhenti) dengan posisi berdiri tetap membutuhkan tenaga dan memaksa otot-otot kaki kita terus bekerja. Beberapa rekan kami hampir kehabisan tenaga sehingga butuh waktu lebih banyak untuk saling tunggu hingga kembali berjalan. Bukan perjalanan yang mudah kawan.

Selfie sejenak saat mencapai pos 8

Ditengah kondisi tim yang cukup lelah, salah satu penghibur kami adalah cahaya bintang dan bulan yang selalu setia menemani selama perjalanan. Bagaimana tidak, langit begitu bersih sehingga jelas tergambar gugusan bintang. Bahkan garis putih yang mungkin saja bentuk dari galaksi kita galaksi bima sakti (milki way) serasa begitu dekat dalam jangkauan mata. Kami semua masih bisa tersenyum dengan sisa tenaga yang kami punya, masih harus mendaki lagi menuju pos 9 dengan waktu tempuh tak kurang dari 3 jam. Pantang kembali sebelum tercapai puncak idaman, begitu ujarku menyemangati rekan-rekan. Ya suatu tagline ajaib yang saya dapatkan saat bergabung di Mapala Unisi beberapa tahun silam, masih cukup mujarab untuk terus bisa memaksa kami berjalan lagi meninggalkan pos 8 pada pukul 02.00.

8th station to 9th station

Mungkin ini menjadi bagian tersulit dalam pendakian Gunung Fuji, bergantian kami mulai menghirup oksigen tambahan dari dalam kaleng. Sementara itu jalanan semakin padat, kami tidak bisa sembarangan berhenti ditengah karena banyak pendaki lain juga berpacu dibelakang. Capek, ngantuk menjadi satu, sementara pos 9 belum juga terlihat setelah lebih dari 2 jam berjalan, tantangan bertambah berat karena pondok-pondok juga semakin jarang terlihat. Hanya hamparan batuan tegak menantang didepan kami. Bonusnya adalah saat kami melihat kebelakang, semburat cahaya kemerahan mulai muncul di ufuk timur yang melecut kami agar segera sampai ke pos 9.

Semburat merah di ufuk timur

Kami terus berjalan melawan ego, menekan jauh rasa takut kami dalam-dalam, setapak demi setapak kami lewati jalanan tanpa harus menengadah ke atas, tekad kami bulat harus menikmati sunrise sampai di pos 9. Dan akhirnya kami berhasil melewatinya, tepat pukul 04.40 kami mencapai pos 9 (sekitar 3.500 mdpl). Kami memutuskan untuk berhenti beristirahat dan sholat sambil menunggu detik-detik munculnya sang mentari di puncak tertinggi negeri matahari ini. Sementara beberapa rekan ada yang sudah dahulu sampai ke pos 10 dengan alasan akan mempunyai waktu istirahat yang lama di puncak.

Sunrise!

Allahu akbar, sungguh pemandangan yang magis. Sejenak kami terdiam melupakan sejenak segala beban berat di kaki. Terharu saat melihat cahaya magis muncul di ufuk timur. Sungguh indah, kenikmatan semakin bertambah saat bersamaan dengan naiknya matahari seketika suhu berubah menjadi hangat. Perlahan empat derajat, enam derajar berubah cepat hingga lebih dari 12 derajat.

Sunrise

Highest sunrise i ever had

Puncak Fuji (3776 mdpl)

Puas menikmati sunrise, sambil melemaskan otot-otot kami dan sarapan pagi kami pun harus memulai perjalanan lagi kurang lebih satu jam untuk mencapai puncak dan kawah Gunung Fuji. Sudah kepalang tanggung, tak ada alasan lagi bagi kami untuk berhenti, langkah kami lebih pasti kali ini. Medan dari pos 9 menuju puncak layaknya gunung berapi aktif lainnya, sedikit mengingatkan pada jalur pasar bubrah Gunung Merapi, bedanya jalur disini sudah ditata rapi dengan pembatas dikanan dan kiri sehingga perjalanan juga lebih mudah dan safety.

Batuan merah sesaat menuju puncak

 

Gerbang puncak Fuji

 

Kawah Gunung Fuji

Selain lautan awan yang terbentang dari atas puncak Gunung Fuji sebenarnya pemandangan tidak terlalu menarik. Hanya pasir gersang, kalah jauh jika dibandingkan dengan panorama Semeru ataupu Bromo. Namun yang mambuat kagum tentunya ketinggian Fuji (3776 mdpl) yang sedikit diatas Rinjani (3726 mdpl).

Panorama dari puncak Fuji

Selanjutnya suasana puncak Fuji yang nyaman tak terasa jika berada di atas gunung. Jika rekan pernah mendaki Gunung Lawu mungkin pernah mampir di warung mbok yem (puncak hargo dalem) satu-satunya warung tertinggi di puncak Pulau Jawa, di Fuji lebih hebat lagi pada ketinggian tersebut terdapat kantor pos, kantin hingga bulldozer. Dan satu yang lebih membuat saya kagum adalah tidak ada sampah sedikitpun terlihat selama mendaki Fuji. Apakah pengelola menyediakan kotak sampah? Tidak! Sejak awal kami diminta menyediakan sendiri. Budaya masyarakat Jepang itu yang akhirnya memaksa para pendaki non Jepang menghormatinya.

Lelah letih kini menjadi tak berarti, kami berhasil menaklukan ego kami menggapai puncak Gunung Fuji. Sebagai reward dan kenagan tak lupa juga kami berselfie di puncak, kenapa selfie? karena sebelum mendaki kami mempunyai motto 5 S. Safety-Spirit-Smile-Style-Selfie.

Puncak Fuji

Selfie di puncak Fuji

Turun yang tak mudah

Setelah puas berfoto ria, berjalan disekitar kawah hingga membeli oleh-oleh di puncak kami memutuskan untuk segera turun. Pukul 08.00 kami sudah harus bergerak turun, dengan estimasi waktu turun hingga 3 jam kami bisa sampai kembali di Pos 5 pada pukul 11.00, kami masih mempunyai waktu cukup sebelum bus pesanan kami kembali ke Tokyo pada pukul 13.00.

Medan turun yang berpasir

Kabut saat perjalanan turun

Nyatanya perjalanan turun tidaklah semudah yang dibayangkan, jalan pasir berbatu membuat kami mudah terpeleset, kami harus lebih ekstra hati-hati untuk menghidari cidera kaki. Ah kami sudah lelah, tenaga kami sudah habis akibat pendakian tanpa henti yang kami lakukan tanpa tidur yang cukup. Rasanya kami ingin turun menggelinding seperti bola saja agar cepat sampai. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan disertai kabut tebal datang mengarah ke puncak. Tak ayal jalanan menjadi basah dan licin, cuaca kembali dingin dan jarak pandang berkurang hanya sampai 2 meter. Oh tuhan ternyata ini lebih berat dari yang kami duga sebelumnya.

Dengan kondisi kabut, perjalanan kamu lebih lambat hingga menjadi 4,5 jam. Kami harus terus berjalan sambil sesekali melirik jam tangan. Pukul 12.30 pos 5 sudah terlihat namun kami masih harus berjalan lagi kebawah. Tak ada pilihan lain, Lari atau kami akan tertinggal oleh bus. Antara pasrah dan terus berusaha akhirnya tanpa perduli rasa sakit di kaki alhamdulillah akhirnya kami bisa mencapai pos 5 tepat waktu. Alhamdulillah 12. 55 kami sampai di bus stop. Dengan nafas sengal menderu kami masih diizinkan masuk oleh petugas Bus. Sungguh perjalanan yang gila, hingga duduk didalam bus pun kami masih belum percaya akan apa yang kami lakukan.

Tidak sekedar mendaki

Banyak pengalaman seru yang kami alami selama perjalanan , canda tawa, letih lelah kami hadapi bersama. Paling tidak pendakian kali ini dapat mengajarkan kami bagaimana: (1) Kebesaran tuhan atas keindahan ciptaanya, (2) Negara Jepang dengan apiknya mengelola dan mengemas wisata alam. (3) Cara kami menjaga kekompakan meski banyak dari kami yang baru pertama kali bertemu. (4) Cara kami menyiasati diri agar tidak cepat putus asa dalam mencapai tujuan karena hampir semua mendaki gunung untuk pertama kalinya.

Selain itu pendakian kali ini juga membawa misi dari kami penerima beasiswa LPDP di negara Jepang Khususnya. Kami dikirim oleh pemerintah Indonesia ke Jepang untuk belajar, belajar formal di universitas, belajar sosial di lingkungan Jepang. Membawa apa yang baik dari sini menularkannya di negeri tercinta Indonesia. Menapaki puncak Gunung Fuji merupakan salah satu simbol kami untuk tidak mudah menyerah dalam belajar dan terus berusaha hingga kami mencapai puncak dan membawa nilai-nilai yang telah kami dapatkan kembali ke Indonesia.

Sebagai penutup berikut ini video footage dari kami kiranya semakin menambah motivasi rekan pembaca untuk dapat mencapai puncak Fuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *