Menyulap Landfill TPA menjadi taman yang indah @Moerenuma Koen, Sapporo

glass pyramid

TPA dan permasalahan sampah Kota.

Konsekuensi logis dari perkembangan aktivitas penduduk pada suatu kota salah satunya adalah penurunan daya dukung lingkungan. Kegiatan penduduk pada suatu kota misalnya akan memberikan dampak langsung terhadap volume timbulan sampah yang dihasilkan. Sampah yang tidak diolah akan semakin mengurangi kemampuan lingkungan didalam merespon perubahan lingkungan yang nantinya akan berdampak terhadap kesehatan, keselamatan dan kenyamanan penduduk kota. Hingga saat ini Tempat pembuangan akhir  (TPA), masih menjadi senjata utama pemerintah Indonesia didalam menyelesaikan permasalahan sampah perkotaan. Sayangnya prinsip pengolahan TPA yang ditawarkan pada umumnya masih pada dataran mencegah penumpukan sampah di suatu kota dan belum mempersyaratkan adanya proses 3R. Padahal penerapan 3R lah yang dapat mereduksi volume timbulan sampah dari penduduk kota. Kita bisa bayangkan jika konsep TPA tersebut masih dipertahankan maka pada tahun-tahun kedepan suatu kota akan semakin banyak membutuhkan lahan untuk digunakan sebagai TPA. Masalah lain adalah ketika pada tahapan perencanaan TPA seringkali menemui hambatan tertama terkait dengan masalah sosial di masyarakat seperti penolakan dan protes. Selain itu proses penutupan TPA dan penggunaan lahan bekas TPA juga belum menjadi perhatian utama didalam perencanaan.

Taman Indah di bekas lahan TPA.

Pada akhir musim gugur 2010 kemaren saya sempat mengunjungi Moerenuma Koen (Taman) di Sapporo, Hokkaido. Sebuah taman yang megah dan unik. Unik karena lahan taman yang digunakan adalah lahan bekas landfill Tempat pembuangan sampah (TPA) . Landfill di kota sappooro mulai dibangun pada 1979 dengan area seluas 71,2 Ha, total jumlah sampah yang pernah dibuang ke area ini sebanyak 2,7 juta Ton sebelum ditutup pada tahun 1990. Disekitar landfill juga merupakan area konservasi berupa rawa yang berguna sebagai daerah resapan dan mempunyai peran penting dalam penanggulangan banjir di kota Sapporo.

Merubah Landfill yang notabene tempat berbahaya menjadi taman yang indah?….wow..it’s just A. M. A. Z. I. N. G.

Dari website resmi Moerenumera park diketahui jika taman ini dibangun pada areal seluas 189 hektar termasuk dengan rawa-rawa disekelilingnya. Taman yang luas ini merupakan inti dari konsep “Circular Greenbelt Concept,” di kota Sapporo yang bertujuan untuk membangun area urban di Sapporo dengan taman dan jalur hijau.

lay out dari taman Moerenuma, Sumber: website resmi taman.

Taman Hijau yang penuh ambisi.

Proyek ambisius ini digagas oleh seorang lansekap arsitek yang juga seniman bernama Isamu Noguchi Keturunan Jepang yang lahir di Amerika. Rancangan awal dimulai pada tahun 1982, sayangnya sang Arsitek tidak sempat mengikuti perkembangan pembangunan taman itu karena beliau meninggal jauh sebelumnya pada bulan Desember 1988. Akan tetapi proses konstruksinya tetap mengacu kepada master plan yang telah dibuat oleh sang arsitek.

Isamu Noguchi, sumber:wikipedia

Total taman ini menghabiskan dana sebesar 27 juta yen dan selesai pada Maret 2005 dan pertamakali dibuka pada bulan Juli ditahun yang sama. Taman ini mempunyai 120 buah permainan anak-anak, 3000 pohon ceri, dan kapasitas parkir yang dapat menampung 1500 kendaraan. Noguchi mengatakan jika taman ini merupakan satu kesatuan utuh berupa sculpture. Terdapat beberapa bangunan unik (sumber:website resmi taman moerenuma) di taman itu antara lain:

  • Mt. Moere.

Mempunyai tinggi 62 meter dan dapat dipanjat dari lima sisi yang ada. Dari atas anda tidak hanya bisa melihat pemandangan taman ini secara keseluruhan namun anda juga bisa melihat kota sapporo dari atas. Biasanya saat winter sering digunakan sebagai arena downhill ski.

  • Forest of Cherry Trees

disekitar hutan pinus ini terdapat tujuh zona bermain anak dar zona A-G. Semua jenis permainan di area ini didesain sendiri oleh Noguchi, dan ini merupakan karya seni yang menarik.

  • Play Mountain

Gunung buatan ini dibuat mirip dengan piramida dilengkapi dengan undakan dari batu granit yang mirip dengan reruntuhan piramida di zaman mesir kuno. Dari puncak gunung ini (3o m) anda bisa melihat pemandangan hijau disekeliling taman.

  • Glass Pyramid “HIDAMARI”

Piramida kaca ini digunakan sebagai simbol dari taman Morenuma dan terletak di pusat taman. Selain itu piramid ini juga digunakan sebagai museum yang menyimpan sebagian dari karya-karya Noguchi. Bangunan 3 Lantai ini didalamnya terdapat restauran, ruang kelas dan seni. Pada bagian atas terdapat teropong yang bisa digunakan untuk melihat area rawa di sekitar taman.

  • Tetra Mound

Berbebentuk segitiga raksasa dengan tinggi 13 meter terbuat dari baja stainless dan di bagian dalamnya terdapat gundukan rumput dengan diameter 2 meter. Berbagai bentuk segitiga dan piramida ini hampir mirip simbol mason, mungkin saja jika Noguchi terobsesi pemimpin amerika yang notabene anggota mason seperti George Washington atau Roosevelt.

  • Music Shell

panggung terbuka dihadapan pola unik ini sering digunakan sebagai tempat untuk pertunjukan musik. Pada bangunan dibelakangan nya terdapat ruangan bagi para performer.

  • Moere Beach

Pada musim panas dibagian tengah taman yang landai terdapat pantai buatan yang dibuat mirip menyerupai bibir pantai dengan batuan dan pasir, lengkap dengan deburan ombak buatan. Sayangnya saya datang pada musim yang salah sehingga pantai buatan ini tidak digunakan.

  • Aqua Plaza

Kolam dangkal dengan dasar batuan, ditengahnya terdapat mata air yang mengalir menuju kanal sepanjang 150 meter. Sungguh memberikan efek sejuk ketika melewati bangunan ini dan saya jamin setiap orang ingin mencelupkan kakinya di kolam ini 😀 .

  • Sea Fountain

Air mancur ini mempunyai diameter 48 meter dan tinggi maksimum 25 meter, sangat besar. Pada jam-jam tertentu air terjun ini bisa menari dan menambah suasana hidup didalam taman ini.

Moerenuma through my viewfinder.

Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil di Moerenuma, sayangnya tidak semua area taman bisa saya jelajahi karena sangat luas, dan saya sendiri sudah kecapekan NgeGOWES dari Kampus Hokkudai menuju taman ini (1 jam). Terimakasih buat mas Kholil yang sudah bersedia menemani saya Mbolang di Sapporo ;D.

 

Music shell

 

Mt Moere

 

tetra mound

 

glass pyramid

 

play mountain

 

play ground

 

area 51, look like meteorite crater isn't?

 

3R....even in omiyage

 

at top of pyramid

 

oh...forget to say thanks to my Jitensha for brought me here ;D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *