sampah elektronik (e-waste)

705372_discarded1

Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengguna Facebook terbanyak ke dua di dunia setelah Amerika serikat, sungguh tidak mengherankan, karena wabah online-isasi #istilahbaru ūüėÄ telah menular hingga ke tukang becak.

(foto:pak hari dengan becak online nya)

Tak ayal kemajuan teknologi telah merubah gaya hidup masyarakat, hampir dipastikan jika saat ini komputer,handphone bukanlah barang langka di Indonesia. Dengan geliat kemajuan teknologi tersebut ternyata tersimpan ancaman yang besar bagi lingkungan, apalagi kalau bukan masalah sampah dan kali ini sampah jenis baru yaitu e-waste. Data dari Greenpeace memperkirakan jumlah sampah elektronik secara global berkisar antara 20 juta ton dan 50 juta ton per tahun. Besarnya sampah elektronik ini terus meningkat karena pengguna cenderung berganti komputer, ponsel, serta printer lebih cepat daripada masa-masa sebelumnya. Di amerika  pada tahun 1998saja tercatat sekitar 20 ribu PC (personal computer) bekas, dapat dibayangkan berapa jumlahnya pada tahun-tahun belakangan.

Sebagian mungkin berpendapat jika e-waste di Indonesia tentu tidak sebanyak yang dihasilkan di Amerika, namun pendapat tersebut kiranya perlu segera diluruskan. Masalahnya adalah, Indonesia merupakan pasar potensial terhadap komputer bekas. Bukan merupakan suatu masalah jika komputer bekas yang dikirim merupakan komputer yang di rekondisi atau bisa digunakan lagi, seperti yang di advokasikan oleh lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup Basel Action Network (BAN), mereka menyatakan bahwa barang elektronik bekas (used electronic equipment) selama masih bisa berfungsi normal dan dapat dipergunakan tidak dapat dikategorikan sebagai sampah dan tidak dikontrol Konvensi BASEL (konvensi yang mengatur pergerakan limbah B3 lintas negara). Yang menjadi masalah adalah kebanyakan limbah komputer yang dikirim sudah tidak bisa berfungsi dan hanya akan dijual terpisah dari setiap komponennya, sehingga lebih tepat kalau Indonesia di anggap sebagai gudang e-waste yang potensial.

Urgensi dari pengelolaan limbah e-waste adalah kuantitas dan ancaman kontaminasi kandungan bahan berbahaya yang terdapat didalam komponen-komponen komputer tersebut terhadap lingkungan dan manusia. Pemerintah Indonesia yang menganggap penting hal itu segera melakukan respon yang positif. Respon tersebut tertuang didalam  Surat Kementerian Lingkungan Hidup No.B.1258/ DepIV/LH/06/2010 tanggal 8 Juni 2010 tentang Pelarangan Impor Monitor Bekas dan Limbah Elektronik dan Surat Kementerian Lingkungan Hidup dengan Nomor B9921/DepIV/LH/12/ 2010 tanggal 31 Desember tentang Impor Monitor Bekas. Kebijakan ini dirasa sangat tepat jika menimbang bahwa monitor bekas (CRT/Cathode Ray Tube) terdiri dari berbagai komponen limbah B3 seperti Timbal, Merkuri dan Barium, bahan berbahaya lain seperti Cadmium dan Fosfor yang telah terbukti memberikan efek buruk terhadap manusia.

Sayangnya, para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Komputer Layak Pakai Nasional (APKOMLAPAN) ini, menuntut agar Menteri mencabut surat keputusan tersebut. Mereka berkilah keputusan itu akan mematikan pasokan komputer bekas untuk pedagang dan industri komputer bekas.

Niat baik, usaha yang baik ternyata belum cukup untuk dianggap baik, saya pribadi setuju dengan larangan impor limbah monitor dan komputer bekas. Seharusnya para pedagang bisa berpikir out of the box, jika impor komputer bekas tidak dibatasi maka akan semakin membuat usaha rakitan komputer lokal terkalahkan. Jelas sekali jika komputer rekondisi akan memberikan margin keuntungan yang besar dibanding komputer buatan anak bangsa sendiri, selain itu mengambil resiko denga menerima deposit limbah B3 dalam jumlah besar bukanlah perkara yang mudah untuk ditangani. Solusi bagi banyaknya limbah komputer yang sudah berada di indonesia sekarang ini yaitu dengan melakukan recovery terhadap komponen logam didalamnya dengan pengawasan langsung oleh pihak yang berkait untuk meminimalisasi dampak terhadap manusia dan lingkungan. Solusi terakhir yaitu dengan melakukan recycle menjadikan limbah komputer lebih memiliki daya jual, seperti yang dilakukan oleh Jake ham yang menciptakan iMacquarium.

sumber:

  1. kompasonline
  2. http://www.informinc.org/fact_CWPcomputer.php
  3. http://www.treehugger.com/files/2011/10/apple-imacs-recycled-into-imacquariums.php

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *