Mengubah Udara menjadi air minum

Rekan blogger jangan heran ya dengan judul diatas, udara memang bisa dirubah menjadi air minum karena pada dasarnya banyak sekali uap air yang terkandung didalam udara. Bahkan prosentase air tawar yang terdapat di udara (atmosfer) lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah air tawar yang bersumber dari air sungai (USGS, 1984).

Perkiraan distribusi air di bumi (USGS, 1984)

Jika sebelumnya salah satu Universitas di Peru mengembangkan baliho (papan reklame) yang dapat menangkap air dari udara, hal yang sama juga dilakukan oleh perusahaan air minum asal Prancis Eole Water. Eole water saat ini sedang mendemonstrasikan perangkat turbin pengolah air nya di sebuah gurun di kota Abu Dhabi. Menurut mereka, turbin tersebut dapat menghasilkan air bersih sampai dengan 1.000 Liter per harinya. Sebuah kabar yang cukup menggembirakan ditengah isu pencemaran lingkungan dan ketimpangan infrastruktur distribusi air bersih saat ini. Langsung saja simak videonya berikut ini:

Prinsip dasar yang digunakan pada alat tersebut adalah sistem kondensasi yang dapat mengubah wujud benda menjadi bentuk yang lebih (Gas atau Cair). Turbin angin akan menarik dan mengalirkan banyak uap air melewati kondenser selanjutnya cairan tersebut akan ditampung dengan sebelumnya diolah menggunkan seperangkat filter/membran penyaring air agar dapat memenuhi standar kualitas air minum. Sayangnya alat ini masih sangat mahal dan hanya ekonomis jika diinstall pada daerah dengan kelembaban yang cukup tinggi.

*Semua gambar dan Video teknologi ini merupakan hak cipta dari Ecole Water.

 

Baliho AJAIB-Pengolah Air Minum

Iklan Universitas

Riset dan teknologi pada suatu universitas sudah pasti menjadi daya tarik utama bagi calon mahasiswa untuk menentukan tempat dimana mereka akan melanjutkan studinya nanti. Tidak heran jika banyak universitas yang lebih memilih menonjolkan tema-tema penelitian mereka melalui berbagai kemasan iklan yang menarik.  Mengiklankan melalui media yang umum seperti TV,surat kabar,baliho hingga media iklan yang padat karya dan banyak biaya misalnya konferensi ilmiah dan pameran/eksebisi.

Begitu pula dengan yang dilakukan oleh Peru’s University of Engineering and Technology (UTEC) didalam menarik perhatian calon mahasiswa. Pihak UTEC membuat iklan melalui media baliho berisikan hasil dari riset yang telah mereka lakukan. Yang menarik, baliho tersebut bukanlah baliho biasa, lebih dari baliho dengan desain menarik dan provokatif ataupun baliho dengan layar yang dapat menampilkan video. Baliho ini dapat difungsikan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas…penasaran baliho seperti apa itu? simak saja videonya

 

bagaimana..keren bukan? Anda bisa menamainya Baliho Ajaib

Baliho Ajaib

Ibu kota Peru, Lima mungkin merupakan salah satu ibukota negara dengan kondisi ekstrim didalam mendapatkan air bersih. Lingkungan sekelilingnya merupakan daerah gurun, cuaca panas dan curah hujan yang sangat rendah bahkan hampir tidak ada. Kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas penduduk yang menghasilkan limbah sehingga berdampak buruk terhadap kualitas air tanah…serba susah

Melalui riset di UTEC timbullah gagasan untuk mengatasi masalah kelangkaan air bersih di Peru dengan memanfaatkan Humiditas. Humiditas (kelembaban udara relatif) di daerah tersebut yang sangat tinggi mencapai 98% (penjelasan lihat gambar). Nah baliho tersebut sesungguhnya merupakan rangkaian teknologi untuk menangkap air dari udara lalu memprosesnya menjadi air minum.

Penjelasan: Humidity 52% berarti udara disekitar mengandung tetes air sebanyak 52% terhadap kandungan maksimal air dalam udara tersebut untuk temperatur 20*C dikenakan pada udara tersebut (lihat gambar).

Setelah uap air dalam udara sekitar  ditangkap, tetes air akan dialirkan menuju penampung untuk selanjutnya diolah melalui teknologi penyaringan reverse osmosis. Hasil air olahan ini sebelumnya ditampung kedalam sebuah tangki dan dialirkan melalui pipa distribusi kebagian bawah tiang baliho yang telah dilengkapi dengan keran automatis.

Didalam sebuah baliho terdapat 5 generator yang berfungsi untuk menangkap air dari kelembaban udara,sedangkan tangki pengumpul didalamnya dapat menampung air lebih kurang sebanyak 20 liter. Menurut pihak UTEC baliho tersebut telah memproduksi sejumlah 9,5 m3 air bersih dalam kurun waktu tiga bulan atau setara dengan konsumsi air bersih untuk 100 KK per bulan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui…Pihak UTEC melakukan promosi pendidikan dengan cara yang cerdas, dengan melakukan demo langsung terhadap teknologi yang mereka miliki untuk menyelsaikan masalah-masalah di masyarakat. Layak di jadikan contoh bagi universtas-universitas di Indonesia.

Upss…sebagai bonus saya bagikan baliho-baliho ajaib* yang lainnya 😀

 

cleanriver

cleanwater2

*Ajaib: bagi saya ajaib karena dapat membantu masyarakat didalam mendapatkan air bersih dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga air sungai tetap berish

**Tulisan ini sumber dan inspirasinya berasi dari blog ini gambar kampanye sungai bersih didapatkan dari sini

Rancang Bangun Unit Pengolahan Air Minum Rendah Emisi

Latar Belakang

Sejatinya pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala bidang kehidupan. Namun pembangunan global dewasa ini membawa indikasi bahwa masa depan dunia berada pada bayang-bayang suramnya lingkungan hidup. Laju pertumbuhan ekonomi harus dibayar mahal dengan laju degradasi lingkungan hidup yang juga terus meningkat. Hal tersebut diakibatkan dari pembangunan lebih beriontasi kepada kepentingan jangka pendek tanpa mempertimbangkan kepentingan lingkungan dan masa depan. Salah satu contoh perkembangan teknologi dan pembangunan yang tidak selaras dengan kepedulian manusia terhadap lingkungan hidup adalah krisis sumber daya air akibat perubahan iklim global. Peningkatan suhu bumi, perubahan pola cuaca, kekeringan sebagai bagian dari perubahan iklim secara otomatis akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas sumber daya air.

Screen shot 2013-04-29 at 15.26.33

Perumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang diatas tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan teknologi pengolahan air minum yang efektif, murah, dan ramah lingkungan (rendah emisi). Diharapkan konsep tersebut dapat diaplikasikan secara ekonomi dan menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan ketersediaan air ditengah isu perubahan iklim yang sedang berkembang pesat.

Screen shot 2013-04-29 at 15.26.10

Ide penelitian

Teknologi pengolahan air yang rendah emisi diwujudkan melalui pengembangan model (prototip) dengan rangkaian yang teknologi terdiri dari:

  • Flitrasi, digunakan untuk removal partikel tersuspensi didalam air.
  • Adsorpsi, digunakan untuk removal partikel terlarut didalam air.
  • Membran, digunakan untuk removal bakteri patogen didalam air.

Unit-unit tersebut dipasang pada sepeda dan dimotori menggunakan pompa dengan tenaga pedal yang tidak memerlukan aliran listrik sehingga emisi karbon yang dihasilkan rendah.

Screen shot 2013-04-29 at 15.51.06

Model

Model unit pengolahan air minum rendah emisi didesain menggunakan Google Sketch-UP seperti terlihat pada gambar berikut.

Screen shot 2013-04-29 at 15.58.37

Hasil Uji

Hasil pengujian dari kualitas air hasil pengolahan menggunakan prototype unit pengolahan air minum rendah emisi secara umum telah memenuhi baku mutu kualitas air minum (Permenkes/492/2010) untuk parameter kekeruhan dan bakteriologis. Namun penggunaan secara terus menerus dalam waktu yang lama menyebabkan terjadinya penurunan kualitas effluent, kemungkinan hal tersebut diakibatkan adanya kontaminasi dari unit pompa yang membutuhkan pelumas untuk memperlancar gerakan.

Saran

Pompa yang digunakan dapat dimodifikasi menggunakan pompa jenis peristaltik yang mempunyai resiko lebih rendah terhadap terjadinya kontaminasi.

Screen shot 2013-04-29 at 16.07.06

Screen shot 2013-04-29 at 16.13.27

  • Penelitian ini merupakan hasil dari proyek mahasiswa pada mata kuliah Rancang Bangun di Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia TA 2011/2012 dibawah bimbingan penulis.
  • Sebagian dari hasil penelitian ini telah dipresentasikan di Environmental Protection and Green Technology Workshop di National Tsing Hua University-Taiwan (4-7 November 2012)