Sistematika AMDAL (PermenLH No.16 Tahun 2012)

Sejak diundangkan 6 bulan yang lalu (Oktober 2012) Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor16 Tahun 2012  Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup secara resmi diberlakukan pada bulan April 2013 ini. Dengan demikian pedoman penyusunan dokumen AMDAL sebelumnya (Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) dinyatakan tidak berlaku.

Ada beberapa perubahan teknik penulisan dokumen AMDAL pada peraturan terbaru kali ini. Menurut saya pribadi, perubahan tersebut lebih mengarah kepada hal positif seperti efisiensi penulisan dalam bentuk tabel-tabel resume. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan teknik penulisan dokumen AMDAL sesuai peraturan baru tersebut bisa dilihat pada attachment dibawah ini.

Sampling penyusunan Dokumen Pengelolaan & Pemantauan Bandara @Kupang

Setelah beberapa pulau di indonesia yang saya singgahi mulai dari sumatera, jawa,bali dan kalimantan, akhirnya kesampaian juga saya menjejakkan kaki di bagian tenggara indonesia, Pada bulan oktober 2009 kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan sampling kualitas lingkungan di bandara El Tari Kupang,NTT. Sampling kualitas lingkungan ini merupakan salah satu kegiatan didalam penyusunan DPPL (dokumen pemantauan dan pengelolaan lingkungan) bandara El Tari kupang, nantinya saya dan tim dari lab.kualitas lingkungan TL-UII akan melakukan investigasi lapangan terkait kualitas lingkungan di bandara tersebut, mulai dari kualitas udara,kualitas air,limbah,sampah, juga survey sosial ekonomi kemasyarakatan. lokasi samplingya di bandara El tari dan perkampungan penduduk Penfui,well thats a lot of work…let’s the story begin

kupang kesan pertama

Kurang lebih 3 jam perjalanan di dalam boeing 737 menjadi perjalanan paling panjang yang pernah saya rasakan melalui udara. sesaat sebelum landing mata saya menangkap satu daerah yang gersang dan panas, yup benar saja, keluar dari kabin pesawat kami pun disampbut dengan suhu udara hampir mendekati 340 C ….so kesan pertama KUPANG=PANAS. kami pun langsung menuju ke kantor angkasa pura bandara El tari untuk melapor dan menyusun rencana tentang apa yang akan kami kerjakan esok, setelah bertemu dengan para pembesar di bandara tersebut kami pun langsung meluncur menuju tempat penginapan, tujuan kami adalah hotel sasando (1st class hotel in kupang)ahaay…ternyata nasib kami tidak begitu baik, hotel tersebut telah fully booked ,maklum saat itu lagiweekend. selama perjalanan menuju ke hotel saya tidak banyak melihat gedung gedung tinggi ataupun mall seperti di bandung atau jakarta, ooh jadi ini yang sering di perbincangkan para anggota DPR jika pembangunan di indonesia bagian timur memang benar tidak sebanding dengan indonesia bagian tengah, so kesan kedua KUPANG=SMALL CITY. kesan ketiga?? oh m good i’m fallin sleep Zzz Zz Zzz ZZZ …..di dalam kamar hotel kesan nomor satu dikalahkan oleh dinginnya AC he he.

bandara El Tari

bandara El tari adalah satu satunya bandara di Kupang, nama EL Tari diambil dari nama pahlawan(eks gubernur NTT), diabadikan sebagai nama bandara karena jasanya yang begitu besar terhadap pembangunan di NTT. bandara El Tari sendiri tidak begitu besar, namun jangan salah..pesawat garuda sampai sini loh…yang membikin bangga adalah banaknya pesawat RIAU AIR LINES yang parkir di appron bandara..sebagai orang riau saya bangga, selidik punya selidik ternyata pesawat RAL itu disewa oleh salah satu biro perjalanan untuk melayani tujuan ke pulau kecil seperti ende, pulau komodo dll, pulau pulau tersebut menjadi tempat tujuan wisata yang sangat eksotis, bahkan pulau komodo menjadi salah satu nominasi 7 keajaiban dunia, pengen kesana euy…tapi kerja belum selesai belum apa apa….(kerawang bekasi ;D )

pesawat RIAU AIR LINES di bandara El Tari

monumen EL Tari di taman bandara

oh iya sampai lupa…perjalanan ke kupang ini tujuan utamanya adalah untuk penyusunan DPPL, apa sih DPPL itu???, dokumen DPPL itu sendiri hampir sama dengan dokumen AMDAL namun ditujukan untuk kegiatan yang sudah berjalan, intinya untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari bandara, baik dampak negatif atau positif , jika ada dampak negatif perlu dirumuskan kegiatan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, di DPPL juga dirumuskan tata cara evaluasi dan pemantauan lingkungan.

let’s work

bagi buta saya bangun mencoba mengusir kantuk, karena pagi ini pekerjaan besar telah meunggu…we are ready to rock. dengan taksi avan*a yang full audio kami pun meluncur ke bandara untuk memulai pekerjaan kami. namun…wait wait…ternyata alat alat sampling kami masih tertahan di bandara juanda surabya…waah terancam molor nih kerjaan..sigh. kami pun merubah rencana, sampling kualitas udara dan air di pending, saatnya untuk menyebar kuesioner…ugghh disinilah saya dibuat tertegun dengan kehidupan penduduk disekitar bandara. sekali lagi saya membuktikan kebenaran tentang belum meratanya pembangunan di indonesia, sebagian besar penduduk di sekitar badara (desa penfui) berprofesi sebagai petani, sayangnya tanah di daerah kupang tidak subur seperti di flores, sehingga tanaman yang ditanam hanya singkong singkong dan singkong. secara umum tidak ada perbedaan sifat penduduk kupang dibandingkan penduduk jawa dari segi keramah tamahannya i luph u full indonesia dah. waw waw tak terasa setengah hari kami berkeliling kampung melakukan wawancara dan setumpuk kuesioner itupun habis tersebar, saatnya rehat. selesai makan siang kamipun melanjutkan kegiatan untuk melakukan survey kemelimpahan flora dan fauna…yeeaah penyisiran pun dimulai, ada banyak jenis jenis flora baru yang say temui, jepret sana jepret sini huaah entah berapa Mb memori itu habis terpakai, ada beberapa pemandangan yang menarik untuk dibahas, coba lihat gambar dibawah ini.

foto diatas adalah tambang mangan liar yang banyak ditemukan di sekitar lokasi bandara,great…ternyata dibawah kegersangan kupang ternyata memendam potensi biji mangan, allah memang adil ya…melihat langsung tambang liar yang ada…hu hu langsung saja naluri environmentalist ku timbul, sedangkan tambang yg dikelola aja banyak menimbulkan dampak lingkungan, apa lagi tambang liar seperti ini..ampuun dah…dalam hati bergumam“taruhan dah..klo dibiarkan dalam beberapa bulan kedepan bakal jadi isu yg panas nih” menurut beberapa penambang liar yang sempat saya temui ternyata tambang mangan di kupang baru naik daun..yah kita tidak bisa serta merta menyalahkan mereka, mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seharusnya pihak pemda merespon hal ini dengan cepat untuk menghindari dampak yang lebih buruk lagi….

saat malam tiba

karena seharian menunggu alat sampling yang tak kunjung datang kamipun memutuskan untuk mencoba jalan jalan mencoba menikmati malam di kota kupang sambil cari makan malam, malam malam di kupang jauh dengan suasana hingar bingar, namun anehnya banyak orang berkelompok di pinggir-pinggir jalan ditemani beberapa botol minuman  hai hai..bahaya nih bahkan mereka sambil membuat api unggun dengan membakar sampah sampah yang ada..hu hu jadi was was, sepanjang jalan memang banyak sekali makanan, bahkan aroma sangat menggoda selera…aroma sate, nasi goreng, daging bakar dll…namun sayang nya semuanya ada label B2  ngoik ngoik…HARAAM!!…fuih capek juga cari tempat makan yang halal..hampir saja kami balik ke hotel..eits tapi untunglah di seberang jalan ada tenda biru dengan spanduk“sedia soto lamongan-ayam bakar-ayam goreng” ha hai ini yang namanya jodoh, jauh jauh ke kupang makannya penyetan juga..penyetan is the best lah, yummmi lele goreng bikinan mas nya ternyata enak juga, dengan sedikit promosi sang penjual berkata”lele nya asli dari suroboyo loh mas” weeew sampai lele aja harus impor.

sampling pun dimulai

akhirnya alat sampling yang ditunggu-tunggu pun datang, ha hai pekerjaan sebenarnya pun dimulai. sampling pertama yang kami lakukan adalah sampling kebisingan di lokasi bandara, saat itulah telinga ku serasa pekak…dikelilingi suara bising, saat itu sound level meter digital menujukkan angka 90 dB.. …kayaknya kalau diceritain sampling nya bakalan ngebosenin deh..lebih baik dilihat gambar-gambarnya aja yah..monggo

sampling kebisingan

selain sampling kebisingan kami juga mengukur getaran yang dihasilkan dari pesawat

sampling getaran

yang paling berat adalah sampling kualitas udara seharian nungguin alat di tengah appron dengan suhu mencapai 38 derajat kepanasan he he

sampling TSP menggunakan high volume sampler

yang ini midget impinger untuk sampling SOx, NOx dan O3

ditambah lagi sampling kualitas air keesokan harinya

sampling kualitas air di perumahan penduduk

well pokoknya selama 3 hari itu kami sampling dari pagi sampai malam…walaupun capek tapi tetap aja semangat kan sudah menjadi kewajiban..sampling kualitas lingkungan lain meliputi sampah, limbah juga dilakukan baik di bandara maupun di perumahan penduduk. sebenarnya masih banyak lagi foto yang mau di upload namun karena keterbatasan dari wewenang dan juga privacy maka cukup itu aja ya…..Zz zZz zzz

saatnya kita pulang

4 hari di kupang bahkan bahasa kupang pun belum lancar tapi kami harus berpisah he he lebay mode:ON , sebelumnya kami sempat jalan jalan ke pantai lusiana (not bad) tapi lebih bagus pantai paris he he, borong oleh oleh tasbih cendana buat papa, dompet tenun buat mama, sama peci buat adek trus saya dapat apa??? mentahnya aja deh…alhamdulillah banyak dapat pengalaman baru, sayangnya niat ke pulau komodo dan danau kelimutu tidak kesampaian he he…tapi kami dapat bonus jalan-jalan di bali loh ternyata rute pesawat ke jogja harus transit di bali dulu…hi hi dari pada transit 4 jam di bandara lebih baik muter-muter bali, jalan jalan ke pantai ………..setelah penat bekerja pantai emang bikin suasana santai…santai santai…

well well itu tadi catatan perjalanan ke kota kupang…sampai jumpa di perjalanan saya yang lain ya…tetap sehat tetap semangat dan doakan saya dapat proyek lagi biar tetap bisa jalan jalan dan makan makan bersama saya loh loh……end

 

Dasar-dasar AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan)

Dewasa ini kesadaran terhadap lingkungan hidup di negara indonesia semakin membaik, walaupun masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain, hal ini di butkikan dengan gencarnya isu-isu lingkungan yang mulai banyak digembar gemborkan di media massa, salah satunya adalah tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) suatu kawasan. namun ironisnya sampai saat sekarang masih banyak masyarakat yang masih belum mengerti AMDAL, bahkan AMDAL yang notabene Tata cara penyusunannya telah diatur di dalam (PermenLH no 08 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan AMDAL) secara jelas, seringkali penyusunan AMDAL hanya dengan meng-copy paste dari AMDAL yang lainnya
berikut merupakan penjelasan umum mengenai AMDAL menurut PermenLH no 08 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan AMDAL

AMDAL adalah singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungandisebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif dan negatif dari suatu rencana kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah suatu kegiatan/proyek layak atau tidak layak lingkungan. Kajian dampak positif dan negatif tersebut biasanya disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial- budaya dan kesehatan masyarakat. Suatu rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil kajian AMDAL, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar daripada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunannya.
Bentuk hasil kajian AMDAL berupa dokumen AMDAL yang terdiri dari 5 (lima) dokumen, yaitu:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA- ANDAL)
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
5. Dokumen Ringkasan Eksekutif

1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL):
KA-ANDAL adalah suatu dokumen yang berisi tentang ruang lingkup serta kedalaman kajian ANDAL. Ruang lingkup kajian ANDAL meliputi penentuan dampak-dampak penting yang akan dikaji secara lebih mendalam dalam ANDAL dan batas-batas studi ANDAL. Sedangkan kedalaman studi berkaitan dengan penentuan metodologi yang akan digunakan untuk mengkaji dampak. Penentuan ruang lingkup dan kedalaman kajian ini merupakan kesepakatan antara Pemrakarsa Kegiatan dan Komisi Penilai AMDAL melalui proses yang disebut dengan proses pelingkupan.

2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL):
ANDAL adalah dokumen yang berisi telaahan secara cermat terhadap dampak penting dari suatu rencana kegiatan. Dampak- dampak penting yang telah diindetifikasi di dalam dokumen KA- ANDAL kemudian ditelaah secara lebih cermat dengan menggunakan metodologi yang telah disepakati. Telaah ini bertujuan untuk menentukan besaran dampak. Setelah besaran dampak diketahui, selanjutnya dilakukan penentuan sifat penting dampak dengan cara membandingkan besaran dampak terhadap kriteria dampak penting yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tahap kajian selanjutnya adalah evaluasi terhadap keterkaitan antara dampak yang satu dengan yang lainnya. Evaluasi dampak ini bertujuan untuk menentukan dasar-dasar pengelolaan dampak yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif.

3. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL):
RKL adalah dokumen yang memuat upaya-upaya untuk mencegah, mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang bersifat negatif serta memaksimalkan dampak positif yang terjadi akibat rencana suatu kegiatan. Upaya-upaya tersebut dirumuskan berdasarkan hasil arahan dasar-dasar pengelolaan dampak yang dihasilkan dari kajian ANDAL.

4. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL):

RPL adalah dokumen yang memuat program-program pemantauan untuk melihat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh dampak-dampak yang berasal dari rencana kegiatan. Hasil pemantauan ini digunakan untuk mengevaluasi efektifitas upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan, ketaatan pemrakarsa terhadap peraturan lingkungan hidup dan dapat digunakan untuk mengevaluasi akurasi prediksi dampak yang digunakan dalam kajian ANDAL.

5. Ringkasan Eksekutif:
Ringkasan Eksekutif adalah dokumen yang meringkas secara singkat dan jelas hasil kajian ANDAL. Hal hal yang perlu disampaikan dalam ringkasan eksekutif biasanya adalah uraian secara singkat tentang besaran dampak dan sifat penting dampak yang dikaji di dalam ANDAL dan upaya-upaya pengelolaan dan pemantuan lingkungan hidup yang akan dilakukan untuk mengelola dampak-dampak tersebut.

Manfaat AMDAL
AMDAL bermanfaat untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan agar layak secara lingkungan. Dengan AMDAL, suatu rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, dan mengembangkan dampak positif, sehingga sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (sustainable).

Pihak-pihak yang terlibat didalam proses penyusunan AMDAL

a. Pemerintah:
Pemerintah berkewajiban memberikan keputusan apakah suatu rencana kegiatan layak atau tidak layak lingkungan. Keputusan kelayakan lingkungan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan rakyat dan kesesuaian dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Untukmengambil keputusan, pemerintah memerlukan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, baik yang berasal dari pemilik kegiatan/pemrakarsa maupun dari pihak-pihak lain yang berkepentingan. Informasi tersebut disusun secara sistematis dalam dokumen AMDAL. Dokumen ini dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL untuk menentukan apakah informasi yang terdapat didalamnya telah dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan untuk menilai apakah rencana kegiatan tersebut dapat dinyatakan layak atau tidak layak berdasarkan suatu kriteria kelayakan lingkungan yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.

b. Pemrakarsa:
Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa inilah yang berkewajiban melaksanakan kajian AMDAL. Meskipun pemrakarsa dapat menunjuk pihak lain (seperti konsultan lingkungan hidup) untuk membantu melaksanakan kajian AMDAL, namun tanggung jawab terhadap hasil kajian dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan AMDAL tetap di tangan pemrakarsa kegiatan.

c. Masyarakat yang berkepentingan:
Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh oleh segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL. Masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam AMDAL yang setara dengan kedudukan pihak-pihak lain yang terlibat dalam AMDAL. Di dalam kajian AMDAL, masyarakat bukan obyek kajian namun merupakan subyek yang ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan AMDAL. Dalam proses ini masyarakat menyampaikan aspirasi, kebutuhan, nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan usulan-usulan penyelesaian masalah untuk memperoleh keputusan terbaik.
Dalam proses AMDAL masyarakat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu;
•Masyarakat terkena dampak: masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana kegiatan (orang atau kelompok yang diuntungkan (beneficiary groups), dan orang atau kelompok yang dirugikan (at-risk groups)
•Masyarakat Pemerhati: masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana kegiatan, tetapi mempunyai perhatian terhadap kegiatan maupun dampak-dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Manfaat penyusunan AMDAL

Bagi pemerintah, AMDAL bermanfaat untuk:
• Mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pemborosan sumber daya alam secara lebih luas.
• Menghindari timbulnya konflik dengan masyarakat dan kegiatan lain di sekitarnya.
• Menjaga agar pelaksanaan pembangunan tetap sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
• Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup.
• Bahan bagi rencana pengembangan wilayah dan tata ruang.

Bagi pemrakarsa, AMDAL bermanfaat untuk:
• Menjamin keberlangsungan usaha dan/atau kegiatan karena adanya proporsi aspek ekonomis, teknis dan lingkungan.
• Menghemat dalam pemanfaatan sumber daya (modal, bahan baku, energi).
• Dapat menjadi referensi dalam proses kredit perbankan.
• Memberikan panduan untuk menjalin interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar sehingga terhindar dari konflik sosial yang saling merugikan.
• Sebagai bukti ketaatan hukum, seperti perijinan.

Bagi masyarakat, AMDAL bermanfaat untuk:
• Mengetahui sejak dini dampak positif dan negatif akibat adanya suatu kegiatan sehingga dapat menghindari terjadinya dampak negatif dan dapat memperoleh dampak positif dari kegiatan tersebut.
• Melaksanakan kontrol terhadap pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan pemrakarsa kegiatan, sehingga kepentingan kedua belah pihak saling dihormati dan dilindungi.
• Terlibat dalam proses pengambilan keputusan terhadap rencana pembangunan yang mempunyai pengaruh terhadap nasib dan kepentingan mereka.

Prosedur penyusunan AMDAL
Prosedur AMDAL terdiri dari:
1. Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
2. Proses pengumuman
3. Proses pelingkupan (scoping)
4. Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL
5. Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL
6. Persetujuan Kelayakan Lingkungan

Selanjutnya penjelasannya adalah sebagai berikut:

Proses Penapisan:
Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi wajib AMDAL adalah proses untuk menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.Di Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan sistem penapisan satu langkah. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu menyusun dokumen AMDAL atau tidak dapat dilihat pada Keputusan Menteri Negara LH Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL.

Proses Pengumuman
Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan untuk membuat AMDAL wajib mengumumkan rencana kegiatannya kepada masyarakat sebelum pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL. Pengumuman dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa kegiatan. Tata cara dan bentuk pengumuman serta tata cara penyampaian saran, pendapat dan tanggapan diatur dalam Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.

Proses Pelingkupan
Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotetis) yang terkait dengan rencana kegiatan.Tujuan pelingkupan adalah untuk menetapkan batas wilayah studi, mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan, menetapkan tingkat kedalaman studi, menetapkan lingkup studi, menelaah kegiatan lain yang terkait dengan rencana kegiatan yang dikaji. Hasil akhir dari proses pelingkupan adalah dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam proses pelingkupan.

Proses penyusunan dan penilaian KA-ANDAL:
Setelah KA-ANDAL selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

Proses penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL;
penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

 

Sebagian besar tulisan ini dirangkum dari buku Tanya jawab AMDAL Terbitan KEMENLH 2004.