Baliho AJAIB-Pengolah Air Minum

Iklan Universitas

Riset dan teknologi pada suatu universitas sudah pasti menjadi daya tarik utama bagi calon mahasiswa untuk menentukan tempat dimana mereka akan melanjutkan studinya nanti. Tidak heran jika banyak universitas yang lebih memilih menonjolkan tema-tema penelitian mereka melalui berbagai kemasan iklan yang menarik.  Mengiklankan melalui media yang umum seperti TV,surat kabar,baliho hingga media iklan yang padat karya dan banyak biaya misalnya konferensi ilmiah dan pameran/eksebisi.

Begitu pula dengan yang dilakukan oleh Peru’s University of Engineering and Technology (UTEC) didalam menarik perhatian calon mahasiswa. Pihak UTEC membuat iklan melalui media baliho berisikan hasil dari riset yang telah mereka lakukan. Yang menarik, baliho tersebut bukanlah baliho biasa, lebih dari baliho dengan desain menarik dan provokatif ataupun baliho dengan layar yang dapat menampilkan video. Baliho ini dapat difungsikan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas…penasaran baliho seperti apa itu? simak saja videonya

 

bagaimana..keren bukan? Anda bisa menamainya Baliho Ajaib

Baliho Ajaib

Ibu kota Peru, Lima mungkin merupakan salah satu ibukota negara dengan kondisi ekstrim didalam mendapatkan air bersih. Lingkungan sekelilingnya merupakan daerah gurun, cuaca panas dan curah hujan yang sangat rendah bahkan hampir tidak ada. Kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas penduduk yang menghasilkan limbah sehingga berdampak buruk terhadap kualitas air tanah…serba susah

Melalui riset di UTEC timbullah gagasan untuk mengatasi masalah kelangkaan air bersih di Peru dengan memanfaatkan Humiditas. Humiditas (kelembaban udara relatif) di daerah tersebut yang sangat tinggi mencapai 98% (penjelasan lihat gambar). Nah baliho tersebut sesungguhnya merupakan rangkaian teknologi untuk menangkap air dari udara lalu memprosesnya menjadi air minum.

Penjelasan: Humidity 52% berarti udara disekitar mengandung tetes air sebanyak 52% terhadap kandungan maksimal air dalam udara tersebut untuk temperatur 20*C dikenakan pada udara tersebut (lihat gambar).

Setelah uap air dalam udara sekitar  ditangkap, tetes air akan dialirkan menuju penampung untuk selanjutnya diolah melalui teknologi penyaringan reverse osmosis. Hasil air olahan ini sebelumnya ditampung kedalam sebuah tangki dan dialirkan melalui pipa distribusi kebagian bawah tiang baliho yang telah dilengkapi dengan keran automatis.

Didalam sebuah baliho terdapat 5 generator yang berfungsi untuk menangkap air dari kelembaban udara,sedangkan tangki pengumpul didalamnya dapat menampung air lebih kurang sebanyak 20 liter. Menurut pihak UTEC baliho tersebut telah memproduksi sejumlah 9,5 m3 air bersih dalam kurun waktu tiga bulan atau setara dengan konsumsi air bersih untuk 100 KK per bulan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui…Pihak UTEC melakukan promosi pendidikan dengan cara yang cerdas, dengan melakukan demo langsung terhadap teknologi yang mereka miliki untuk menyelsaikan masalah-masalah di masyarakat. Layak di jadikan contoh bagi universtas-universitas di Indonesia.

Upss…sebagai bonus saya bagikan baliho-baliho ajaib* yang lainnya 😀

 

cleanriver

cleanwater2

*Ajaib: bagi saya ajaib karena dapat membantu masyarakat didalam mendapatkan air bersih dan juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga air sungai tetap berish

**Tulisan ini sumber dan inspirasinya berasi dari blog ini gambar kampanye sungai bersih didapatkan dari sini

Daur Ulang air Wudhu (Fatwa MUI) tentang Air Daur Ulang

Wudhu = boros air..??

Berwudhu sudah menjadi suatu ritual yang “lazim” dilakukan bagi setiap muslim sebelum melaksanakan sholat. Ya..dengan berwudhu berarti kita telah bersuci dari hadas (kecil) yang merupakan salah satu syarat sah dalam sholat. Namun saat berwudlu seringkali kita tidak memperhatikan jumlah air yang digunakan, sehingga banyak dari kita yang terjerumus dalam suatu perbuatan boros dengan berlebih-lebihan. Jika kita asumsikan rata-rata jumlah air yang kita gunakan dalam sekali wudhu sebesar 3 Liter/orang maka dalam sehari paling tidak kita menghabiskan 15 Liter (5x3L/org/wudhu) air bersih. Sebagai perbandingan, kebutuhan air bersih rata-rata terendah di Dunia ada di benua Afrika (47 Liter/orang/hari), sehingga kebutuhan berwudhu kita menapai 31% dari kebutuhan air bersih rata-rata penduduk Afrika. Saat ini terdapat 200 juta lebih umat Islam di Indonesia, anda dapat menghitung sendiri betapa banyak air bersih yang harus disediakan hanya untuk keperluan berwudhu, cukup banyak bukan?.

Tak pelak isu penggunaan air wudhu sering menjadi sorotan terlebih lagi di era yang serba “green” seperti sekarang ini. Sebagian pendapat bahkan cenderung menyudutkan umat islam, mereka beranggapan jika umat Islam sebagai umat yang paling boros didalam penggunaan air. Well, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar dan tidak pula salah. “Benar” karena memang secara praktek dan faktual kita mengkonsumsi air yang lebih banyak dan cenderung boros dibanding umat lain namun pendapat tersebut juga bisa salah “Salah” karena sebenarnya tata cara berwudhu yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW tidaklah dengan menggunakan air secara berlebihan, dalam dalam beberapa hadis diketahui jika rasulullah hanya berwudhu dengan air yang cukup bahkan tergolong sedikit, simaklah hadis berikut:

“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam biasa berwudhu dengan 1 mud ( 1 genggaman tangan orang Arab zaman Nabi ) air dan mandi dengan 4 sampai 5 mud air.” (HR: Al Bukhari no. 201, Muslim no. 325, menurut lafazh Muslim)

Satu mud menurut para ahli Fikih dikonversikan menjadi sejumlah  0,6875 Liter air (Majalah an Nashihah, Vol. 11, Tahun 1427H/2006 M, hal. 37-39) atau setara dengan air mineral kemasan ukuran sedang dan tidak sampai satu gayung air. Jika kita mengikuti sunnah Rasul tersebut maka kita hanya membutuhkan kurang dari 4 Liter air bersih perhari untuk keperlua berwudhu..sungguh hemat bukan?.

Daur Ulang Air Wudhu

Umumnya kualitas air bekas wudhu tidaklah terlalu buruk, bahkan lebih baik dari kualitas grey water atau air buangan rumah tangga dari kamar mandi/cuci yang tidak dicampur dengan air buangan dari toilet. Air bekas wudhu mempunyai kandungan bahan organik yang lebih sedikit, hal tersebut terjadi karena jarang sekali kita temukan penggunaan pembersih (sabun/deterjen) saat berwudhu. Sementara pembersih (sabun/detergen) banyak mengandung bahan pencemar organik seperti surfaktan yang sulit terurai di lingkungan. Sehingga parameter air yang perlu diperhatikan kemungkinan besar hanyalah Total Solid (Total kandungan solid didalam air dalam bentuk TSS dan TDS), Turbidity (Kekeruhan) yang berasal dari kotoran tubuh pada saat tersapu air wudhu.

Kualitas air bekas wudhu yang cenderung “soft” tersebut membuka peluang dilakukannya daur ulang air menggunakan teknologi yang sederhana. Beberapa pilihan proses pengolahan air yang mudah di temukan di Indonesia diantaranya adalah: proses filtrasi menggunakan susunan pasir dan batu yang dapat menyaring padatan di dalam air, proses adsorpsi menggunakan karbon aktif yang lebih powerful menjerap unsur-unsur pencemar dan filter membran yang sudah semakin murah. Tentunya pemilihan jenis pengolahan air wudhu tersebut didasarkan atas kegunaan hasil olahannya. Jika air olahan akan digunakan untuk keperluan mandi-cuci maka dibutuhkan kombinasi dari beberapa jenis proses pengolahan air, bahkan mungkin juga ditambahkan pengolahan desinfeksi untuk parameter bakteriologis E.Coli. Akan tetapi jika air bekas wudhu hanya akan digunakan sebagai penyiram tanaman maka tidak diperlukan proses pengolahan lebih lanjut.

filter pasir

filter membran

Fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang

Berkaitan dengan daur ulang air wudhu timbul beberapa pertanyaan yang menggelitik di benak saya sejak saya masih di bangku kuliah. Apakah air hasil dari proses daur ulang dapat digunakan kembali menjadi air wudhu?. Apakah air daur ulangnya masih tetaptergolong kepada air suci dan mensucikan?. Bagaimana hukum penggunaan air daur ulang didalam Islam? .

Saya sempat berdiskusi dengan beberapa ustad mengenai hukum air daur ulang, umumnya jawaban mereka sepakat jika air daur ulang boleh digunakan kembali menjadi air minum,mandi dan kebutuhan sehari-hari selagi kualitasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak membahayakan kesehatan. Namun pada saat saya menanyakan apakah air daung ulang tersebut bisa didunakan untuk berwudhu jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab boleh digunakan karena airnya telah berubah menjadi air yang bersih (suci), ada yang lebih memilih menggunakan sumber air yang ada terlebih dahulu kecuali pada keadaan darurat yang menyebabkan tidak ada air bersih lagi, ada juga yang masih ragu-ragu dengan alasan jika ini adalah masalah baru sehingga perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukumnya. Saya pun mencoba mencari informasi melalui situs MUI, namun hingga tahun 2009 saya masih belum menemukannya. Seminggu yang lalu saya sempat kembali browsing ke situs Halal MUI , dan alhamdulillah ternyata MUI telah merilis Fatwa MUI Tentang Air Daur Ulang (Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.02 Tahun 2010 Tentang Air Daur Ulang) , suatu prestasi yang layak diapresiasi mengingat semakin berkembangnya teknologi yang perlu disikapi sesuai dengan hukum Islam.

Guess What?, MUI memperbolehkan umat muslim Indonesia berwudlu menggunakan air daur ulang, dengan catatan sebagai berikut:

  • Air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutannajis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya yakni,rasa,warna, dan bau (muthagayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
  • Air daur ulang yang dimaksud dapat digunakan untuk berwudlu, mandi, mensucikan najis dan istinja’, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

Tidak bisa ditawar lagi jika kehidupan manusia saat ini berada dibawah bayang-bayang ancaman krisis air bersih di masa mendatang. Kebutuhan akan air bersih terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sementara pada saat yang bersamaan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi juga berkontribusi negatif terhadap ketersediaan air bersih itu sendiri, So kita perlu Berhemat.

Hemat air dalam berwudhu bisa dilakukan dari diri kita sendiri dengan mengikuti sunnah rasul dalam berwudlu, menyadari akan kebutuhan saudara kita di belahan dunia lain yang masih kekurangan air. Jika memungkinkan bisa saja dengan mengganti keran air wudhu dengan keran automatis yang dilengkapi dengan sensor sehingga wudhu kita menjadi lebih efisien, atau yang lebih sederhana dengan menerapkan keran air otomatis rancangan mahasiswa Indonesia yang dapat menghemat air hingga 1,5 Liter. Mendaur Ulang wudlu sudah barang tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap ketersediaan sumber daya air bersih, apalagi saat ini sudah diperkuat dengan dasar hukum dari fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang. Semoga bermanfaat.

Save Water Save Our Environment