Fatwa MUI tentang pengelolaan sampah

Budaya mengelola sampah.

Memilah sampah seperti yang terlihat dalam video diatas memang sudah lazim dilakukan oleh masyarakat di seluruh Jepang. Saking konsen nya pemerintah Jepang terhadap masalah tersebut, bahkan buku paduan lengkap bagaimana mengelola (memilah dan membuang) sampah sudah diberikan kepada para pendatang saat pertamakali mereka sampai di kantor pemerintahan untuk keperluan izin tinggal. Tidak hanya itu, dasar-dasar kebersihan lingkungan termasuk mengelola sampah sangat intens diajarkan dan dipraktekkan di semua level pendidikan, terutama untuk pendidikan dasar. Dengan kata lain mengelola sampah sudah menjadi budaya di negara samurai tersebut.

Sehingga menjadi sangat tidak sepadan jika kita membandingkannya dengan pengelolaan sampah di Indonesia. Berbagai permasalahan sampah mulai dari: minimnya infrastruktur, kebijakan dan aturan pada tingkat daerah yang masih belum detil, hingga pada perilaku sebagian besar masyarakat indonesia yang jauh dari rasa peduli terhadap sampah menjadi pekerjaan besar yang masih menunggu untuk dapat ditangani dengan baik.

Yang menarik untuk dicermati ternyata rendahnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dibalik kegagalan pengelolaan sampah di berbagai tempat. Faktor tersebut bahkan masih lebih berpengaruh dibandingkan dengan minimnya infrastruktur pendukung. Tidak mengherankan mengingat pengelolaan sampah diartikan sebagai suatu proses yang menyeluruh, bukan hanya menyangkut aspek teknis, tetapi mencakup juga aspek non teknis, seperti bagaimana mengorganisir, bagaimana membiayai dan bagaimana melibatkan masyarakat penghasil sampah agar ikut berpartisipasi secara aktif didalam mengelola sampahnya sebagaimana termaktub didalam Undang-undang pengelolaan sampah.

Namun dalam suatu kesempatan tatap muka dengan ahli persampahan Indonesia, Guru besar ITB Professor Enri Damanhuri beliau mengatakan jika kita tidak boleh terlalu merasa inferior dibandingkan dengan negara maju dalam hal pengelolaan sampah. Tiga puluh tahun yang lalu bahkan Jepang belum bisa mengelola sampahnya dengan baik, Prancis yang terkenal dengan Eifelnya pun sangat jorok di sudut-sudut kotanya. Kuncinya ada pada pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat didalam memandang sampah sebagai seusatu yang masih berguna, menjadi suatu hal yang harus dikelola sebagai tanggung jawab bersama.

Mengacu pada permasalahan diatas, maka saat ini pemerintah Indonesia semakin gencar melakukan kampanye pengelolaan sampah dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. Ridwan Kamil, Walikota Bandung sudah menginisiasi terbentuknya gerakan pungut sampah di Bandung yang dikemas menarik disesuaikan dengan trend anak muda kekinian. Semakin banyak muncul bank sampah hingga desa wisata lingkungan yang menonjolkan semangat kemandirian dan gotong- royong didalam mengelola sampah menjadi bahan yang lebih bernilai. Meskipun masih dalam skala terbatas, namun gerakan-gerakan tersebut dirasa cukup memelihara rasa optimisme kita akan pengelolaan sampah Indonesia di masa mendatang.

Fatwa MUI.

Optimisme itu bahkan semakin membara ketika MUI secara resmi mengelurakan fatwa ternomor 47 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan. Ketentuan hukum didalam fatwa tersebut secara tegas menyebutkan jika:

  1. Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf.
  2. Membuang sampah sembarangan dan/atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain hukumnya haram.
  3. Pemerintah dan Pengusaha wajib mengelola sampah guna menghindari kemudharatan bagi makhluk hidup.
  4. Mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat hukumnya wajib kifayah.

Secara lengkap terkait isi fatwa MUI tersebut sebagaimana terlihat pada dokumen berikut (klik untuk membuka jendela baru atau menyimpan dokumen): .

Secara singkat dengan munculnya fatwa MUI tersebut maka setiap orang yang membuang sampah sembarangan bukan hanya terancam sanksi pidana di dunia, namun bagi warga indonesia yang beragama Islam juga terancam mendapatkan siksa di akhirat karena telah melakukan sesuatu yang diharamkan (naudzubillah).

Spanduk larangan membuang sampah (doa agar dicabut nyawanya!)

Dengan proporsi lebih dari 85% penduduk Indonesia memeluk agama Islam, maka idealnya fatwa ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengelolaan sampah di masa mendatang. Adanya aturan yang muncul dari aspek keagamaan tentu akan membuat umat Islam berpikir hingga ratusan kali untuk melanggarnya. Karena mematuhi segala aturan yang diperintahkan Allah, serta menjauhi segala perbuatan yang dilarang adalah esensi dari ketakwaan didalam Islam itu sendiri. MUI sebagai representasi para ulama dan juga cendekiawan muslim melalui fatwa-fatwa terhadap masalah islam kontemporer sudah barang tentu juga menjadi rujukan di dalam kehidupan beragama.

Meskipun kita tidak bisa menutup mata jika mengaitkan kuantitas Islam di Indonesia dengan kenyataan berbagai rentetan permasalahan bangsa yang sangat jauh dengan nilai-nilai Islam. Bisa jadi Islam kita tidak lebih dari sekedar simbol, ibadah kita hanyalah sekedar penggugur kewajiban tanpa meresapi dan mengerti esensi dari ibadah itu sendiri. Sungguh ironi jika kita badingkan dengan negara Jepang yang jelas-jelas “kafir” tidak beragama namun disisi lain malah menunjukkan keteraturan didalam tatanan kehidupan mereka. Jika Jepang terlihat lebih Islami maka jelas ada yang salah dalam cara berislam kita. Namun tulisan ini bukan bermaksud untuk menilai bagaimanakah keislaman kita, apa yang salah sehingga kita hanya terlihat sebagai pribadi yang soleh secara individual namun jauh dari kesalehan lingkungan (sosial). Kemballi kepada diri kita masing-masing, mari kita sama-sama berkaca.

Semoga informasi terkait fatwa MUI didalam hal pengelolaan sampah diatas bisa kita aplikasikan kedalam kehidupan kita masing-masing.  Jika dirasa masih sulit untuk merubah dalam skala besar maka kita bisa meniru apa yang diajarkan oleh AA Gym, yaitu prinsip 3M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai dari sekarang untuk mengelola sampah kita. Mulailah untuk mengelola sampah kita dari rumah kita sendiri se “mampu” kita. Jika kita mampu memisahkan sampah plastik dan organik maka itu sudah akan membantu proses pengolahan selanjutnya. Jika kita mampu mengolah sampah organik menjadi kompos tentu akan lebih baik lagi. Jika kita belum mampu? maka cukuplah dengan membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Percayalah jika kita benar-benar melaksanakan ini maka Insha allah mengelola sampah akan memuat lingkungan menjadi lebih sehat, terlebih lagi tentu akan bernilai ibadah.

Baca juga fatwa MUI lain tentang daur ulang air di sini

Daur Ulang air Wudhu (Fatwa MUI) tentang Air Daur Ulang

Wudhu = boros air..??

Berwudhu sudah menjadi suatu ritual yang “lazim” dilakukan bagi setiap muslim sebelum melaksanakan sholat. Ya..dengan berwudhu berarti kita telah bersuci dari hadas (kecil) yang merupakan salah satu syarat sah dalam sholat. Namun saat berwudlu seringkali kita tidak memperhatikan jumlah air yang digunakan, sehingga banyak dari kita yang terjerumus dalam suatu perbuatan boros dengan berlebih-lebihan. Jika kita asumsikan rata-rata jumlah air yang kita gunakan dalam sekali wudhu sebesar 3 Liter/orang maka dalam sehari paling tidak kita menghabiskan 15 Liter (5x3L/org/wudhu) air bersih. Sebagai perbandingan, kebutuhan air bersih rata-rata terendah di Dunia ada di benua Afrika (47 Liter/orang/hari), sehingga kebutuhan berwudhu kita menapai 31% dari kebutuhan air bersih rata-rata penduduk Afrika. Saat ini terdapat 200 juta lebih umat Islam di Indonesia, anda dapat menghitung sendiri betapa banyak air bersih yang harus disediakan hanya untuk keperluan berwudhu, cukup banyak bukan?.

Tak pelak isu penggunaan air wudhu sering menjadi sorotan terlebih lagi di era yang serba “green” seperti sekarang ini. Sebagian pendapat bahkan cenderung menyudutkan umat islam, mereka beranggapan jika umat Islam sebagai umat yang paling boros didalam penggunaan air. Well, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar dan tidak pula salah. “Benar” karena memang secara praktek dan faktual kita mengkonsumsi air yang lebih banyak dan cenderung boros dibanding umat lain namun pendapat tersebut juga bisa salah “Salah” karena sebenarnya tata cara berwudhu yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW tidaklah dengan menggunakan air secara berlebihan, dalam dalam beberapa hadis diketahui jika rasulullah hanya berwudhu dengan air yang cukup bahkan tergolong sedikit, simaklah hadis berikut:

“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam biasa berwudhu dengan 1 mud ( 1 genggaman tangan orang Arab zaman Nabi ) air dan mandi dengan 4 sampai 5 mud air.” (HR: Al Bukhari no. 201, Muslim no. 325, menurut lafazh Muslim)

Satu mud menurut para ahli Fikih dikonversikan menjadi sejumlah  0,6875 Liter air (Majalah an Nashihah, Vol. 11, Tahun 1427H/2006 M, hal. 37-39) atau setara dengan air mineral kemasan ukuran sedang dan tidak sampai satu gayung air. Jika kita mengikuti sunnah Rasul tersebut maka kita hanya membutuhkan kurang dari 4 Liter air bersih perhari untuk keperlua berwudhu..sungguh hemat bukan?.

Daur Ulang Air Wudhu

Umumnya kualitas air bekas wudhu tidaklah terlalu buruk, bahkan lebih baik dari kualitas grey water atau air buangan rumah tangga dari kamar mandi/cuci yang tidak dicampur dengan air buangan dari toilet. Air bekas wudhu mempunyai kandungan bahan organik yang lebih sedikit, hal tersebut terjadi karena jarang sekali kita temukan penggunaan pembersih (sabun/deterjen) saat berwudhu. Sementara pembersih (sabun/detergen) banyak mengandung bahan pencemar organik seperti surfaktan yang sulit terurai di lingkungan. Sehingga parameter air yang perlu diperhatikan kemungkinan besar hanyalah Total Solid (Total kandungan solid didalam air dalam bentuk TSS dan TDS), Turbidity (Kekeruhan) yang berasal dari kotoran tubuh pada saat tersapu air wudhu.

Kualitas air bekas wudhu yang cenderung “soft” tersebut membuka peluang dilakukannya daur ulang air menggunakan teknologi yang sederhana. Beberapa pilihan proses pengolahan air yang mudah di temukan di Indonesia diantaranya adalah: proses filtrasi menggunakan susunan pasir dan batu yang dapat menyaring padatan di dalam air, proses adsorpsi menggunakan karbon aktif yang lebih powerful menjerap unsur-unsur pencemar dan filter membran yang sudah semakin murah. Tentunya pemilihan jenis pengolahan air wudhu tersebut didasarkan atas kegunaan hasil olahannya. Jika air olahan akan digunakan untuk keperluan mandi-cuci maka dibutuhkan kombinasi dari beberapa jenis proses pengolahan air, bahkan mungkin juga ditambahkan pengolahan desinfeksi untuk parameter bakteriologis E.Coli. Akan tetapi jika air bekas wudhu hanya akan digunakan sebagai penyiram tanaman maka tidak diperlukan proses pengolahan lebih lanjut.

filter pasir

filter membran

Fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang

Berkaitan dengan daur ulang air wudhu timbul beberapa pertanyaan yang menggelitik di benak saya sejak saya masih di bangku kuliah. Apakah air hasil dari proses daur ulang dapat digunakan kembali menjadi air wudhu?. Apakah air daur ulangnya masih tetaptergolong kepada air suci dan mensucikan?. Bagaimana hukum penggunaan air daur ulang didalam Islam? .

Saya sempat berdiskusi dengan beberapa ustad mengenai hukum air daur ulang, umumnya jawaban mereka sepakat jika air daur ulang boleh digunakan kembali menjadi air minum,mandi dan kebutuhan sehari-hari selagi kualitasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak membahayakan kesehatan. Namun pada saat saya menanyakan apakah air daung ulang tersebut bisa didunakan untuk berwudhu jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab boleh digunakan karena airnya telah berubah menjadi air yang bersih (suci), ada yang lebih memilih menggunakan sumber air yang ada terlebih dahulu kecuali pada keadaan darurat yang menyebabkan tidak ada air bersih lagi, ada juga yang masih ragu-ragu dengan alasan jika ini adalah masalah baru sehingga perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukumnya. Saya pun mencoba mencari informasi melalui situs MUI, namun hingga tahun 2009 saya masih belum menemukannya. Seminggu yang lalu saya sempat kembali browsing ke situs Halal MUI , dan alhamdulillah ternyata MUI telah merilis Fatwa MUI Tentang Air Daur Ulang (Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.02 Tahun 2010 Tentang Air Daur Ulang) , suatu prestasi yang layak diapresiasi mengingat semakin berkembangnya teknologi yang perlu disikapi sesuai dengan hukum Islam.

Guess What?, MUI memperbolehkan umat muslim Indonesia berwudlu menggunakan air daur ulang, dengan catatan sebagai berikut:

  • Air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutannajis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya yakni,rasa,warna, dan bau (muthagayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
  • Air daur ulang yang dimaksud dapat digunakan untuk berwudlu, mandi, mensucikan najis dan istinja’, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

Tidak bisa ditawar lagi jika kehidupan manusia saat ini berada dibawah bayang-bayang ancaman krisis air bersih di masa mendatang. Kebutuhan akan air bersih terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sementara pada saat yang bersamaan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi juga berkontribusi negatif terhadap ketersediaan air bersih itu sendiri, So kita perlu Berhemat.

Hemat air dalam berwudhu bisa dilakukan dari diri kita sendiri dengan mengikuti sunnah rasul dalam berwudlu, menyadari akan kebutuhan saudara kita di belahan dunia lain yang masih kekurangan air. Jika memungkinkan bisa saja dengan mengganti keran air wudhu dengan keran automatis yang dilengkapi dengan sensor sehingga wudhu kita menjadi lebih efisien, atau yang lebih sederhana dengan menerapkan keran air otomatis rancangan mahasiswa Indonesia yang dapat menghemat air hingga 1,5 Liter. Mendaur Ulang wudlu sudah barang tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap ketersediaan sumber daya air bersih, apalagi saat ini sudah diperkuat dengan dasar hukum dari fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang. Semoga bermanfaat.

Save Water Save Our Environment