Daur Ulang air Wudhu (Fatwa MUI) tentang Air Daur Ulang

Wudhu = boros air..??

Berwudhu sudah menjadi suatu ritual yang “lazim” dilakukan bagi setiap muslim sebelum melaksanakan sholat. Ya..dengan berwudhu berarti kita telah bersuci dari hadas (kecil) yang merupakan salah satu syarat sah dalam sholat. Namun saat berwudlu seringkali kita tidak memperhatikan jumlah air yang digunakan, sehingga banyak dari kita yang terjerumus dalam suatu perbuatan boros dengan berlebih-lebihan. Jika kita asumsikan rata-rata jumlah air yang kita gunakan dalam sekali wudhu sebesar 3 Liter/orang maka dalam sehari paling tidak kita menghabiskan 15 Liter (5x3L/org/wudhu) air bersih. Sebagai perbandingan, kebutuhan air bersih rata-rata terendah di Dunia ada di benua Afrika (47 Liter/orang/hari), sehingga kebutuhan berwudhu kita menapai 31% dari kebutuhan air bersih rata-rata penduduk Afrika. Saat ini terdapat 200 juta lebih umat Islam di Indonesia, anda dapat menghitung sendiri betapa banyak air bersih yang harus disediakan hanya untuk keperluan berwudhu, cukup banyak bukan?.

Tak pelak isu penggunaan air wudhu sering menjadi sorotan terlebih lagi di era yang serba “green” seperti sekarang ini. Sebagian pendapat bahkan cenderung menyudutkan umat islam, mereka beranggapan jika umat Islam sebagai umat yang paling boros didalam penggunaan air. Well, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar dan tidak pula salah. “Benar” karena memang secara praktek dan faktual kita mengkonsumsi air yang lebih banyak dan cenderung boros dibanding umat lain namun pendapat tersebut juga bisa salah “Salah” karena sebenarnya tata cara berwudhu yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW tidaklah dengan menggunakan air secara berlebihan, dalam dalam beberapa hadis diketahui jika rasulullah hanya berwudhu dengan air yang cukup bahkan tergolong sedikit, simaklah hadis berikut:

“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam biasa berwudhu dengan 1 mud ( 1 genggaman tangan orang Arab zaman Nabi ) air dan mandi dengan 4 sampai 5 mud air.” (HR: Al Bukhari no. 201, Muslim no. 325, menurut lafazh Muslim)

Satu mud menurut para ahli Fikih dikonversikan menjadi sejumlah  0,6875 Liter air (Majalah an Nashihah, Vol. 11, Tahun 1427H/2006 M, hal. 37-39) atau setara dengan air mineral kemasan ukuran sedang dan tidak sampai satu gayung air. Jika kita mengikuti sunnah Rasul tersebut maka kita hanya membutuhkan kurang dari 4 Liter air bersih perhari untuk keperlua berwudhu..sungguh hemat bukan?.

Daur Ulang Air Wudhu

Umumnya kualitas air bekas wudhu tidaklah terlalu buruk, bahkan lebih baik dari kualitas grey water atau air buangan rumah tangga dari kamar mandi/cuci yang tidak dicampur dengan air buangan dari toilet. Air bekas wudhu mempunyai kandungan bahan organik yang lebih sedikit, hal tersebut terjadi karena jarang sekali kita temukan penggunaan pembersih (sabun/deterjen) saat berwudhu. Sementara pembersih (sabun/detergen) banyak mengandung bahan pencemar organik seperti surfaktan yang sulit terurai di lingkungan. Sehingga parameter air yang perlu diperhatikan kemungkinan besar hanyalah Total Solid (Total kandungan solid didalam air dalam bentuk TSS dan TDS), Turbidity (Kekeruhan) yang berasal dari kotoran tubuh pada saat tersapu air wudhu.

Kualitas air bekas wudhu yang cenderung “soft” tersebut membuka peluang dilakukannya daur ulang air menggunakan teknologi yang sederhana. Beberapa pilihan proses pengolahan air yang mudah di temukan di Indonesia diantaranya adalah: proses filtrasi menggunakan susunan pasir dan batu yang dapat menyaring padatan di dalam air, proses adsorpsi menggunakan karbon aktif yang lebih powerful menjerap unsur-unsur pencemar dan filter membran yang sudah semakin murah. Tentunya pemilihan jenis pengolahan air wudhu tersebut didasarkan atas kegunaan hasil olahannya. Jika air olahan akan digunakan untuk keperluan mandi-cuci maka dibutuhkan kombinasi dari beberapa jenis proses pengolahan air, bahkan mungkin juga ditambahkan pengolahan desinfeksi untuk parameter bakteriologis E.Coli. Akan tetapi jika air bekas wudhu hanya akan digunakan sebagai penyiram tanaman maka tidak diperlukan proses pengolahan lebih lanjut.

filter pasir
filter membran

Fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang

Berkaitan dengan daur ulang air wudhu timbul beberapa pertanyaan yang menggelitik di benak saya sejak saya masih di bangku kuliah. Apakah air hasil dari proses daur ulang dapat digunakan kembali menjadi air wudhu?. Apakah air daur ulangnya masih tetaptergolong kepada air suci dan mensucikan?. Bagaimana hukum penggunaan air daur ulang didalam Islam? .

Saya sempat berdiskusi dengan beberapa ustad mengenai hukum air daur ulang, umumnya jawaban mereka sepakat jika air daur ulang boleh digunakan kembali menjadi air minum,mandi dan kebutuhan sehari-hari selagi kualitasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak membahayakan kesehatan. Namun pada saat saya menanyakan apakah air daung ulang tersebut bisa didunakan untuk berwudhu jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab boleh digunakan karena airnya telah berubah menjadi air yang bersih (suci), ada yang lebih memilih menggunakan sumber air yang ada terlebih dahulu kecuali pada keadaan darurat yang menyebabkan tidak ada air bersih lagi, ada juga yang masih ragu-ragu dengan alasan jika ini adalah masalah baru sehingga perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukumnya. Saya pun mencoba mencari informasi melalui situs MUI, namun hingga tahun 2009 saya masih belum menemukannya. Seminggu yang lalu saya sempat kembali browsing ke situs Halal MUI , dan alhamdulillah ternyata MUI telah merilis Fatwa MUI Tentang Air Daur Ulang (Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.02 Tahun 2010 Tentang Air Daur Ulang) , suatu prestasi yang layak diapresiasi mengingat semakin berkembangnya teknologi yang perlu disikapi sesuai dengan hukum Islam.

Guess What?, MUI memperbolehkan umat muslim Indonesia berwudlu menggunakan air daur ulang, dengan catatan sebagai berikut:

  • Air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutannajis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya yakni,rasa,warna, dan bau (muthagayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
  • Air daur ulang yang dimaksud dapat digunakan untuk berwudlu, mandi, mensucikan najis dan istinja’, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

Tidak bisa ditawar lagi jika kehidupan manusia saat ini berada dibawah bayang-bayang ancaman krisis air bersih di masa mendatang. Kebutuhan akan air bersih terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sementara pada saat yang bersamaan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi juga berkontribusi negatif terhadap ketersediaan air bersih itu sendiri, So kita perlu Berhemat.

Hemat air dalam berwudhu bisa dilakukan dari diri kita sendiri dengan mengikuti sunnah rasul dalam berwudlu, menyadari akan kebutuhan saudara kita di belahan dunia lain yang masih kekurangan air. Jika memungkinkan bisa saja dengan mengganti keran air wudhu dengan keran automatis yang dilengkapi dengan sensor sehingga wudhu kita menjadi lebih efisien, atau yang lebih sederhana dengan menerapkan keran air otomatis rancangan mahasiswa Indonesia yang dapat menghemat air hingga 1,5 Liter. Mendaur Ulang wudlu sudah barang tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap ketersediaan sumber daya air bersih, apalagi saat ini sudah diperkuat dengan dasar hukum dari fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang. Semoga bermanfaat.

Save Water Save Our Environment


Hadith on forest preservation

Trees are important, valuable and necessary for the existence of any living creature on earth. They are essential to life as we know it and are the ground troops on an environmental frontline.

The most important is when Trees supplying us with oxygen while eliminating CO2 levels from the atmosphere. We also know if Trees can control such noise pollution, decreasing temperature and cleaning the air by  trapping pollutant in their leaf.

Trees also act as phytoremediaiton, cleaning contaminant in the soil by up-taking with their roots, preserve water for being run off and maintain the land stability by fighting from soil erosion.

All those can be considered as  few reasons why trees are priceless. Deforestation surely become suicide without any effort to re-plant.

In ISLAM, we are not allowed to cut tree without any reason as Hadith narrated by Tirmidzi:

Whoever cut down the tree (no reasons justifying), God will send them to hell

SAVE TREE SAVE THE WORLD SAVE OUR LIFE

picture taken from: treesforfree

food wasting in ISLAM

How much did we thrown our food?

According to FAO Study (Gutavsson et all, 2011), “One third of the food produced in the world for human consumption every year, approximately 1.3 billion tonnes gets lost or wasted “. This volume can feed huge number of hunger people in the world (There were 925 million hungry people in 2010, around 13 per cent of world’s population, according to worldhunger ). This inevitably also means that huge amounts of the resources used in food production are used in vain, and that the greenhouse gas emissions caused by production of food that gets lost or wasted are also emissions in vain.

How Islamic said about excess food?

Islam is an entire way of life, and Allah’s Guidance extends into all areas of our lives. Islam has given detailed regulations even on environmental conservation.  Extravagance and waste in Islam are strongly discouraged. Here some guidances about that:
  • “[The Servants of Allah are] Those who, when they spend, are not extravagant and not stingy, but hold a just balance between those extremes” (Qur’an 25:67).
  • “O Children of Adam! Wear your beautiful apparel at every time and place of prayer. Eat and drink, but waste not by excess, for Allah loves not the wasters” (Qur’an 7:31).

Further, Muslim people also recommend to eat as prophet’s way. The licking of the fingers is reported in  hadith  in Sahih Muslim by Ibn Abbas, Ibn Ba’b bin Malik and Abdullah bin Ka’b. “The merits of licking the fingers after taking the food and wipe the dish with the fingers and eating the fallen mouth ful of food after removing the dirt sticking to it “ . It’s not a weird act to do, if we remember The food we Waste, May another persons meal.

 

BE A GOOD MUSLIM…….DON’T WASTE YOUR FOOD

Hima Konservasi Alam Warisan Islam

REPUBLIKA.CO.ID. Islam mengajarkan umatnya untuk melindungi dan menjaga alam dan lingkungan. Pada masa kekhalifahan, peradaban Islam di Semenanjung Arab memiliki dan menjaga kawasan konservasi yang disebut Hima. Hima merupakan zona yang tak boleh disentuh atau digunakan untuk apapun bagi kepentingan manusia. Tempat tersebut digunakan sebagai konservasi alam, baik untuk kehidupan binatang liar maupun tumbuh-tumbuhan.

Sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab juga telah mengenal hima. Para era pra-Islam, hima sering digunakan untuk melindungi suku-suku nomaden tertentu dari musim kemarau yang panjang. Hima yang cenderung subur karena mengandung banyak air dan rumput digunakan sebagi tempat menggembala ternak. Para pemimpin suku-suku nomaden yang cerdik menggunakan  hima untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Murut al-Shafi‘i, seorang ilmuwan Muslim di era keemasan, pada masa pra-Islam, hima digunakan sebagai alat untuk melakukan penindasan terhadap suku-suku lain.

Para sejarawan Muslim di masa kekhalifahan juga kerap mengupas masalah itu. Pada masa pra-Islam,  hima berada di bawah perlindungan dewa suku-suku tertentu. Baik tumbuhan maupun binatang di dalam  hima sangat dilindungi. Sehingga binatang-bintang di dalam hima memiliki hak istimewa yakni berkeliaran sesuka hati, merumput tanpa ada gangguan manusia. Setelah datangnya agama Islam, konsep hima sebagai tempat perlindungan binatang dan tumbuhan tetap dilestarikan. Para khalifah terus menyerukan dan mempraktikkan perlindungan terhadap hima. Pada masa kejayaan Islam, para khalifah kerap mengatakan, setiap spesies binatang memiliki bangsanya sendiri.

Pada masa itu,  menjaga  hima menjadi sebuah kewajiban relijius dibandingkan kewajiban komunitas. Bahkan para ulama juga sering menyerukan pentingnya  hima. Agar sesuai dengan hukum Islam, sebuah hima itu harus memenuhi beberapa syarat yang telah dipraktikkan Nabi dan para khalifah.

Syarat  hima itu antara lain; pertama,  harus berada di bawah perlindungan kekuasaan pemerintah Islam. Kedua,  hima harus dikembangkan sesuai dengan jalan Allah SWT untuk kesejahteraan umat manusia. Ketiga, area yang dijadikan sebagai hima tidak boleh terlalu luas. Keempat, hima harus lebih menguntungkan bagi masyarakat dari pada merugikan masyarakat.

Selain itu, ajaran Islam menegaskan kehadiran sebuah  hima harus memberi  keuntungan lingkungan bagi masyarakat. Khalifah Umar bin Khattab pernah memerintahkan penjaga  Rabadhah hima. Sang Amirul Mukminin itu berkata, Bukalah tanganmu bagi orang-orang yang membutuhkan, dengarkanlah keluhan orang-orang yang tertindas, biarkanlah para gembala yang hidupnya tergantung kepada unta dan domba masuk ke dalam  hima, dan tinggalkanlah ternak milik Ibn ‘Awf dan Ibn ‘Affan (dua aorang kaya teman Nabi Muhammad).

Mereka memiliki banyak pohon kelapa sawit dan ladang jika ternak mereka membutuhkan makan. Tetapi jika ternak mereka kekurangan makan dan hampir mati, mereka bisa datang padaku. Namun lebih mudah bagiku menyediakan rumput bagi mereka dari pada menyediakan emas dan perak.Umar juga menuturkan, Semua properti milik Allah SWT. Dan semua makhluk di muka bumi ini tiada lain adalah hamba Allah. Jika bukan karena Allah, aku tidak akan melindungi tanah ini.

Nabi Muhammad  SAW juga pernah membuat  hima al-Naqi   yang terletak di dekat Madinah sebagai tempat kavaleri dan membuat kota Makkah dan Madinah sebagai dua tempat suci yang tidak boleh diganggu gugat keberadaanya. Nabi melarang berburu binatang pada radius empat mil di sekitar kota Madinah. Selain itu, masyarakat juga dilarang merusak tanaman dalam radius 12 mil di sekitar kota tersebut.

Nabi Muhammad dan para kalifah benar-benar keras dalam menerapkan hukum terhadap hima. Dalam ajaran Islam,  hima menjadi tempat yang diharamkan untuk perburuan dan menjadi tempat yang sakral di mana binatang dan tumbuhan yang di dalamnya dilindungi.

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin-Khattab, ada seorang komandan perang bernama  Sa’ad bin Abi Waqqas menemukan seorang budak memotong tumbuhan yang ada di dalam hima. Kemudian Sa’ad bin Abi Waqqas memukul budak tersebut dan mengambil kapak dari tangannya.Lalu wanita yang merupakan saudara si budak mendatangi Khalifah umar dan melaporkan apa yang dilakukan Sa’ad terhadap budak tersebut. Kemudian Umar berkata, Kembalikan kapak dan baju budak tersebut. Semoga Allah SWT mengampunimu.

Sa‘ad menolak dan berkata, Saya tidak akan melanggar apa yang Nabi perintahkan kepada saya. Tetapi jika kamu suka, saya akan mengganti rugi. Kemudian Sa‘ad mengatakan bahwa Nabi pernah bersabda, ”Siapapun yang melihat seseorang memotong pohon di dalam hima, maka dia harus memukul orang yang memotong pohon tersebut dan menyita alat yang digunakan untuk memotong pohon tersebut.

Setelah itu, Khalifah Umar menerapkan hukuman tersebut bagi siapa saja yang merusak pohon di wilayah hima. Di kota Madinah, ketika sahabat Nabi Abu Sa‘id al-Khudri melihat seekor burung berada di tangan beberapa pemuda, dia mengmbil burung tersebut dari tangan pemuda itu dan membebaskan burung tersebut terbag ke alam bebas. Sementara itu, sahabat Nabi Abu Ayyub al-Ansari pernah melihat beberapa anak laki-laki mengepung seekor rubah di sebuah sudut kota Madinah. Kemudian dia berkata, ini merupakan tanah yang diharamkan untuk berburu. Sedangkan Abu Hurairah pernah berkata, Jika aku melihat kijang di Madinah, aku tidak akan mengganggu mereka.

Ada beberapa tipe  hima di tanah Arab yang memiliki aturan berbeda dalam melindunginya. Pertama, ada hima yang tak boleh digunakan untuk menggembala ternak . Namun,  memotong pohon di wilayah hima diperbolehkan selama periode tertentu di mana pohon telah tua dan sudah menghasilkan bunga dan buah.Kedua, ada hima yang boleh digunakan untuk menggembala ternak dan memotong pohon diperbolehkan hanya setelah pohon berbunga dan menghasilkan buah. Hal ini membantu pembibitan alami di tanah pada musim berikutnya.

Ketiga, menggembalakan ternak diperbolehkan sepanjang tahun, tetapi jumlah dan tipe binatangnya ditentukan. Selain itu, memotong rumput tetap diperbolehkan. Keempat,  hima sebagai tempat perlindungan lebah-lebah. Sehingga menggembalakan ternak hanya diperbolehkan setelah musim bunga.Kelima, sebagai tempat konservasi hutan, seperti pohon Juniperus procera, Acacias spp., Haloxlon persicum. Memotong pohon hanya diperbolehkan pada saat emergensi. Keenam, konservasi hutan guna mencegah terjadinya pembentukan padang pasir.

Konsep Hima di Era Modern

Zaman telah berubah. Suku-suku nomaden di Semanajung Arab, kini berada di bawah pengawasan pemerintah. Sedangkan binatang ternak berada di peternakan dan mendapatkan makanan dari pabrik dan pemiliknya. Namun negara-negara Arab tetap melestarikan  hima beserta fungsinya hingga sekarang.Berdasarkan sebuah laporan, pada 1950, di Arab Saudi terdapat 3.000 hima. Kini  jumlah hima di negara itu sudah mulai berkurang. Tetapi Arab Saudi banyak membangun tempat-tempat konservasi alam seperti  The National Commission for Wildlife Conservation and Development (NCWCD) yang dibangun pada 1986.

Konsep tempat konservasi alam sebenarnya mengadopsi konsep hima di mana binatang dan tumbuh-tumbuhan di tempat konservasi alam itu dilindungi. Binatangnya tidak boleh diburu dan pohon-pohonnya harus dilestarikan. Sedangkan hima di Suriah memiliki sistem yang memungkinkan binatang besar seperti unta dan kuda diperbolehkan masuk  hima.

Tetapi kambing yang merusak rerumputan dengan makan secara rakus tidak boleh masuk hima. Namun peraturan tersebut sepertinya banyak dilanggar karena kurangnya pengawasan dari pemerintah.Di Yaman, sistem  hima sangat efektif dan menyebar luas di hampir seluruh wilayah negara tersebut. Namun sejak pertengahan abad ke-20,   hima mulai berkurang jumlahnya karena adanya faktor sosial ekonomi yang kian mendesak. Hal serupa juga terjadi pada hima yang berada di  Yordania.

Hima sebelum abad ke-20 jumlahnya sangat banyak di negara-negara Arab, meskipun akhirnya jumlahnya semakin menurun dari tahun ke tahun. Tetapi pada zaman sekarang negara-negara di dunia lebih mengenal konsep konservasi alam yang sebenarnya juga merupakan konsep  hima. Guna melestarikan konservasi alam, masyarakat perlu memiliki pengetahuan luas tentang pentingnya untuk menjaga alam tetap lestari termasuk binatang dan tumbuhan. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah di negara-negara di dunia lebih gencar untuk mengkampanyekan program pelestarian alam.

Program pelestarian alam bisa berupa pembentukan agen-agen yang bergerak dalam pelestarian lingkungan, mendidik para siswa sejak dini dan masyarakat terhadap pentingnya melestarikan alam, membekali masyarakat dengan berbagai macam training untuk melestarikan alam. Namun untuk membangun masyarakat modern yang peduli terhadap lingkungan memang tidak mudah. Semua itu membutuhkan waktu dan pengorbanan. Akibat kurangnya kepedulian umat manusia dalam melestarikan lingkungan hidup, dunia kini mengalami pemanasan global.