Peraturan Daerah D.I Yogyakarta Tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik

Pusat Informasi Pengembangan Pemukiman dan Bangunan-Dinas PU Propinsi DIY. Perkembangan jumlah penduduk menyebabkan berbagai macam permasalah permukiman. Salah satu permasalahan tersebut adalah produksi limbah rumah tangga/domestik yang dihasilkan oleh penduduk di permukiman perkotaan. Pertumbuhan jumlah penduduk seringkali tidak diimbangi dengan jumlah sarana pengolahan air limbah. Masyarakat dengan bebasnya membuang limbah rumah tangga/domestik ke sungai dan badan air lain. Perilaku ini membuat degradasi lingkungan dan menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat.

Sesuai dengan dasar teorinya, air limbah domestik adalah air limbah bukan limbah bahan berbahaya dan beracun berupa buangan jamban, buangan mandi dan cuci, serta buangan hasil usaha kegiatan rumah tangga dan kawasan permukiman, rumah makan (restoran), perkantoran, perniagaan, hotel, apartemen dan asrama.

Untuk mengatasi permasalah air limbah sekaligus membangun sistem tata kelola air limbah domestik yang baik. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan Perda no 2 tahun 2013 mengenai Pengelolaan Air Limbah Domestik. Peraturan Daerah diharapkan ini dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat secara bersama sama dalam mengelola air limbah domestik demi menciptakan lingkungan yang sehat dan masyarakat yang sejahtera. Pengelolaan air limbah domestik adalah upaya yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penanganan air limbah domestik.

Untuk lebih jelasnya mengenai perda tersebut dapat dilihat pada dokumen berikut

sumber

Recycled Diaper..Do It By Your Self

Disposable diaper is a baby product we can’t life without. Although they offer convenience, it is have several dangerous environmental drawbacks. Disposable diapers produce more solid waste than reusable diapers, in addition untreated faeces and urine may poses an environmental health problem. Nowadays most disposable diapers can decompose readily within five months, as they are just wood products and cotton, but other component like absorbent gels and plastic components still hard to degrade.

Reuse diaper (cloth diaper) could be the answer of this problem. A study by ILEA.org found that using re-usable cloth diapers can reduce half waste generation than disposable diapers. Creative works by American quilting enthusiast could be great inspiration for you. She  explained step by step to make reusable diaper from unused t shirt in  her blog, easy just cut and sew. Here i made simple poster based on her work.

If you didn’t want to much busy with sewing, you could try other way as did by my Wife. It’s simply just by modified disposable diaper, pull out the filler and adding cloth inside. Please Take a lookrecdiap2

USE REUSABLE DIAPER CAN SAVE RESOURCES

DARE TO TRY?

Bio-Katalis, Solusi Pengolahan Air Sungai Ciliwung Yang Efektif dan Murah?

1331837157284855436

Sampah di Sungai Ciliwung

Pencemaran Sungai Ciliwung

Salah satu masalah klasik di ibu kota hampir tak pernah terselesaikan hingga saat ini adalah pencemaran Sungai Ciliwung. Sampah kota, pemukiman liar di bantaran sungai, hingga limbah industri semuanya berkontribusi negatif terhadap  kualitas air Sungai Ciliwung. Hasil pemantuan yang dilakukan oleh PUSARPEDAL 2011 menunjukkan jika status mutu air DAS Ciliwung dari bagian hulu hingga hilir tergolong kepada tercemar berat walaupun sudah dibandingkan dengan baku mutu air terendah (kelas IV atau peruntukan pertanian). Walaupun demikian aliran Ciliwung masih saja diandalkan sebagai sumber baku air minum seperti pada PDAM Tirta Kahuripan di jalan Citayam – Depok, dan PDAM Ciliwung Kedung Halang Kota Bogor. Tak pelak hal tersebut menimbulkan resiko terjadinya penyebaran penyakit akibat kandungan bahan-bahan pencemar yang terkandung didalam air Sungai Ciliwung.

Pencemaran Sungai Ciliwung tidak hanya menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya, namun secara langsung juga ikut menyumbang dampak terhadap timbulnya bencana banjir tahunan di Kota Jakarta. Semakin berkurangnya daerah resapan air di Kota Bogor akibat alih fungsi hutan menjadi bangunan  mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah, aliran air akan menuju badan sungai Ciliwung dari hulu menuju hilir. Padahal, DAS Ciliwung di daerah hulu tidak terlalu lebar, kondisi ini diperparah dengan adanya penyempitan akibat pembangunan pemukiman penduduk di sempadan sungai. Tak pelak volume air yang sedemikian besar tidak dapat tertampung didalam wadah Sungai Ciliwung yang semakin sempit dan dangkal.

Alternatif Teknologi “Bio-Catalyst” dari BiOWISH.

Salah satu teknologi yang mungkin untuk diterapkan didalam mengolah air Sungai Ciliwung ini salahsatunya adalah Bio-Catalyst. Bio-Catalyst sendiri merupakan proses alamiah yang menggunakan berbagai enzim untuk melakukan transformasi kimia pada senyawa organik. Enzim-enzim yang digunakan dapat berupa enzim yang telah diisolasi atau enzim yang masih berada didalam sel hidup. Adanya sifat aktif dari enzim-enzim tersebut memungkinkan terjadinya reaksi alamiah dalam jangka waktu yang lebih cepat, sehingga tidak menimbulkan efek samping dan produk sisa reaksi yang berbahaya.

Salah satu teknologi Bio-Catalyst yang cukup efektif yaitu dengan merek dagang “aqua” produksi perusahaan pertanian BiOWiSH yang  bermarkas di Chicago, Illinois, USA. Teknologi BiOWiSH menciptakan biokatalis komposit dari perpaduan unik dari mikroorganisme, enzim, dan co-faktor yang diproduksi menggunakanproses fermentasi eksklusif. Mekanisme BiOWiSH didalam mengolah air limbah terdiri dari tiga bagian utama dalam skala waktu yang berbeda (lihat gambar), mekanisme tersebut akan meningkatkan reaksi biokimia pada tingkat yang lebih cepat dan lebih efisien daripada alternatif yang tersedia melalui berbagai kondisi lingkungan.

biowaste

mekanisme BioWiSH didalam pengolahan limbah

BiOWISH mengklaim produk mereka dapat menurunkan kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) didalam air libah dengan cepat dan investasi peralatan yang  murah. Cukup dengan melakukan dosing/pembubuhan bio-katalis dengan peralatan sederhana berupa tangki dan saluran/slang kedalam aliran air limbah.

E75B07A17A1F3659FB7AC6F912D25E67

Peralatan pembubuh/dosing bio-katalis yang digunakan

BiOWISH telah merilis serangkaian studi kasus dari pekerjaan mereka di Pune, India. Lokasi pengolahan adalah saluran  air  yang digunakan untuk pembuangan limbah dan sampah dari rumah tangga, restoran, dan industri kecil di daerah tersebut (identik dengan kualitas air Sungai Ciliwung). Hasilnya menujukkan jika kondisi awal Biological Oxygen Demand (BOD) sebesar 165 mg/L dan Chemical Oxygen Demand (COD) 400 mg/L. Setelah dilakukan treatment konsentrasi BOD turun menjadi 37 mg/L  (penurunan 71%) dan COD menjadi 70 mg/L, atau penurunan 72%. Penurunan tersebut dicapai dalam waktu kurang dali satu bulan (lihat gambar)

BOD__COD2

Penurunan konsentrasi BOD dan COD pada aplikasi Bio-Katalis di Air Limbah

 

“David Fennema, BiOWISH Senior EVP memperkirakan jika BiOWiSH-Aqua diterapkan maka akan memerlukan biaya sekitar 2 – 3 $ per orang per tahun (USD) atau kurang dari 5% dari biaya untuk menginstal sebuah sistem pengolahan air limbah tradisional. Bagaimana teknologi ini cukup murah dan efektif bukan?. Teknologi ini dapat diaplikasikan di Sungai Ciliwung dengan membubuhkan bio-katalis kedalam saluran-saluran air limbah sebekum dibuang ke sungai, ataupun kedalam sungai Ciliwung itu sendiri tentunya dikombinasikan dengan penyehatan sanitasi dan infrastruktur masyarakat di sempadan sungai.

Lalu apakah kita harus kembali bergantung bergantung kepada Luar Negeri untuk memproduksi Bio-Katalis ini?, jangan khawatir karena sebenarnya Indonesia sendiri mempunyai Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang salah satunya bergerak di bidang bio-katalis. Beberpa Penelitian di Indonesia menunjukkan jika produksi biokatalis bisa dilakukan di dalam negeri, hanya saja belum ada dukungan pemerintah didalam memproduksiny secara masal.

Final Thought

Menyelesaikan masalah pencemaran di Sungai Ciliwung memang tidak mudah, selain teknologi yang tepat pengelolaan juga membutuhkan ketegasan pemerintah didalam penegakan aturan, dan kepedulian masyarakat. Penegakan aturan mutlak adanya karena tanpa ketegasan implementasi di lapangan akan sangat susah dilaksanakan. Sedangkan kepedulian juga menjadi faktor kunci karena tanpa kepedulian masyarakat maka teknologi yang diterapkan hanya bisa menunda sejenak masalah yang ada kemudian menimbulkan masalah baru yang mungkin akan lebih besar.

Air Banjir..Air Limbah..Air Minum…semuanya terkait Air dan semuanya Air… WATER IS EVERYONE BUSINESS. Bukan hanya masalah JOKOWI. Sangat Sulit bagi JOKOWI yang baru dilantik sebagai Gubernur Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini tanpa adanya bantuan dari kita. Bantuan untuk sadar lingkungan dan bantuan untuk peduli…Nyok Kite Bantu JOKOWI.. 😀

 kartun-Jokowi

Sumber Tulisan ini di rangkum dari berita di sini dan sini

Daur Ulang air Wudhu (Fatwa MUI) tentang Air Daur Ulang

Wudhu = boros air..??

Berwudhu sudah menjadi suatu ritual yang “lazim” dilakukan bagi setiap muslim sebelum melaksanakan sholat. Ya..dengan berwudhu berarti kita telah bersuci dari hadas (kecil) yang merupakan salah satu syarat sah dalam sholat. Namun saat berwudlu seringkali kita tidak memperhatikan jumlah air yang digunakan, sehingga banyak dari kita yang terjerumus dalam suatu perbuatan boros dengan berlebih-lebihan. Jika kita asumsikan rata-rata jumlah air yang kita gunakan dalam sekali wudhu sebesar 3 Liter/orang maka dalam sehari paling tidak kita menghabiskan 15 Liter (5x3L/org/wudhu) air bersih. Sebagai perbandingan, kebutuhan air bersih rata-rata terendah di Dunia ada di benua Afrika (47 Liter/orang/hari), sehingga kebutuhan berwudhu kita menapai 31% dari kebutuhan air bersih rata-rata penduduk Afrika. Saat ini terdapat 200 juta lebih umat Islam di Indonesia, anda dapat menghitung sendiri betapa banyak air bersih yang harus disediakan hanya untuk keperluan berwudhu, cukup banyak bukan?.

Tak pelak isu penggunaan air wudhu sering menjadi sorotan terlebih lagi di era yang serba “green” seperti sekarang ini. Sebagian pendapat bahkan cenderung menyudutkan umat islam, mereka beranggapan jika umat Islam sebagai umat yang paling boros didalam penggunaan air. Well, pendapat mereka tidak sepenuhnya benar dan tidak pula salah. “Benar” karena memang secara praktek dan faktual kita mengkonsumsi air yang lebih banyak dan cenderung boros dibanding umat lain namun pendapat tersebut juga bisa salah “Salah” karena sebenarnya tata cara berwudhu yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW tidaklah dengan menggunakan air secara berlebihan, dalam dalam beberapa hadis diketahui jika rasulullah hanya berwudhu dengan air yang cukup bahkan tergolong sedikit, simaklah hadis berikut:

“Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam biasa berwudhu dengan 1 mud ( 1 genggaman tangan orang Arab zaman Nabi ) air dan mandi dengan 4 sampai 5 mud air.” (HR: Al Bukhari no. 201, Muslim no. 325, menurut lafazh Muslim)

Satu mud menurut para ahli Fikih dikonversikan menjadi sejumlah  0,6875 Liter air (Majalah an Nashihah, Vol. 11, Tahun 1427H/2006 M, hal. 37-39) atau setara dengan air mineral kemasan ukuran sedang dan tidak sampai satu gayung air. Jika kita mengikuti sunnah Rasul tersebut maka kita hanya membutuhkan kurang dari 4 Liter air bersih perhari untuk keperlua berwudhu..sungguh hemat bukan?.

Daur Ulang Air Wudhu

Umumnya kualitas air bekas wudhu tidaklah terlalu buruk, bahkan lebih baik dari kualitas grey water atau air buangan rumah tangga dari kamar mandi/cuci yang tidak dicampur dengan air buangan dari toilet. Air bekas wudhu mempunyai kandungan bahan organik yang lebih sedikit, hal tersebut terjadi karena jarang sekali kita temukan penggunaan pembersih (sabun/deterjen) saat berwudhu. Sementara pembersih (sabun/detergen) banyak mengandung bahan pencemar organik seperti surfaktan yang sulit terurai di lingkungan. Sehingga parameter air yang perlu diperhatikan kemungkinan besar hanyalah Total Solid (Total kandungan solid didalam air dalam bentuk TSS dan TDS), Turbidity (Kekeruhan) yang berasal dari kotoran tubuh pada saat tersapu air wudhu.

Kualitas air bekas wudhu yang cenderung “soft” tersebut membuka peluang dilakukannya daur ulang air menggunakan teknologi yang sederhana. Beberapa pilihan proses pengolahan air yang mudah di temukan di Indonesia diantaranya adalah: proses filtrasi menggunakan susunan pasir dan batu yang dapat menyaring padatan di dalam air, proses adsorpsi menggunakan karbon aktif yang lebih powerful menjerap unsur-unsur pencemar dan filter membran yang sudah semakin murah. Tentunya pemilihan jenis pengolahan air wudhu tersebut didasarkan atas kegunaan hasil olahannya. Jika air olahan akan digunakan untuk keperluan mandi-cuci maka dibutuhkan kombinasi dari beberapa jenis proses pengolahan air, bahkan mungkin juga ditambahkan pengolahan desinfeksi untuk parameter bakteriologis E.Coli. Akan tetapi jika air bekas wudhu hanya akan digunakan sebagai penyiram tanaman maka tidak diperlukan proses pengolahan lebih lanjut.

filter pasir

filter membran

Fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang

Berkaitan dengan daur ulang air wudhu timbul beberapa pertanyaan yang menggelitik di benak saya sejak saya masih di bangku kuliah. Apakah air hasil dari proses daur ulang dapat digunakan kembali menjadi air wudhu?. Apakah air daur ulangnya masih tetaptergolong kepada air suci dan mensucikan?. Bagaimana hukum penggunaan air daur ulang didalam Islam? .

Saya sempat berdiskusi dengan beberapa ustad mengenai hukum air daur ulang, umumnya jawaban mereka sepakat jika air daur ulang boleh digunakan kembali menjadi air minum,mandi dan kebutuhan sehari-hari selagi kualitasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak membahayakan kesehatan. Namun pada saat saya menanyakan apakah air daung ulang tersebut bisa didunakan untuk berwudhu jawaban mereka beragam. Ada yang menjawab boleh digunakan karena airnya telah berubah menjadi air yang bersih (suci), ada yang lebih memilih menggunakan sumber air yang ada terlebih dahulu kecuali pada keadaan darurat yang menyebabkan tidak ada air bersih lagi, ada juga yang masih ragu-ragu dengan alasan jika ini adalah masalah baru sehingga perlu dilakukan ijtihad untuk menentukan hukumnya. Saya pun mencoba mencari informasi melalui situs MUI, namun hingga tahun 2009 saya masih belum menemukannya. Seminggu yang lalu saya sempat kembali browsing ke situs Halal MUI , dan alhamdulillah ternyata MUI telah merilis Fatwa MUI Tentang Air Daur Ulang (Fatwa Majelis Ulama Indonesia No.02 Tahun 2010 Tentang Air Daur Ulang) , suatu prestasi yang layak diapresiasi mengingat semakin berkembangnya teknologi yang perlu disikapi sesuai dengan hukum Islam.

Guess What?, MUI memperbolehkan umat muslim Indonesia berwudlu menggunakan air daur ulang, dengan catatan sebagai berikut:

  • Air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutannajis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya yakni,rasa,warna, dan bau (muthagayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
  • Air daur ulang yang dimaksud dapat digunakan untuk berwudlu, mandi, mensucikan najis dan istinja’, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

Tidak bisa ditawar lagi jika kehidupan manusia saat ini berada dibawah bayang-bayang ancaman krisis air bersih di masa mendatang. Kebutuhan akan air bersih terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi. Sementara pada saat yang bersamaan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi juga berkontribusi negatif terhadap ketersediaan air bersih itu sendiri, So kita perlu Berhemat.

Hemat air dalam berwudhu bisa dilakukan dari diri kita sendiri dengan mengikuti sunnah rasul dalam berwudlu, menyadari akan kebutuhan saudara kita di belahan dunia lain yang masih kekurangan air. Jika memungkinkan bisa saja dengan mengganti keran air wudhu dengan keran automatis yang dilengkapi dengan sensor sehingga wudhu kita menjadi lebih efisien, atau yang lebih sederhana dengan menerapkan keran air otomatis rancangan mahasiswa Indonesia yang dapat menghemat air hingga 1,5 Liter. Mendaur Ulang wudlu sudah barang tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap ketersediaan sumber daya air bersih, apalagi saat ini sudah diperkuat dengan dasar hukum dari fatwa MUI tentang penggunaan air daur ulang. Semoga bermanfaat.

Save Water Save Our Environment