Mengenal Indek Standar Pencemar Udara (ISPU)

riau,+bahaya

Kabut Asap (lagi).
Kabut asap kembali menghampiri sebagian wilayah provinsi di Sumatera, beberapa kota seperti Pekanbaru dan Jambi mengalami dampak yang cukup parah. Tak hanya membuat jarak pandang terbatas (kurang dari 50m), yang lebih mengkhawatirkan lagi yaitu dampak dari asap pekat dan berbau menyengat tersebut terhadap pernafasan. Dalam seminggu terakhir bahkan informasi pada public data display dari stasiun pemantau kualitas udara yang di pasang di kota Pekanbaru menunjukkan indeks standar pencemar udara (ISPU) berada pada tingkat berbahaya untuk parameter partikulat matter (PM10).

Tak pelak kondisi “berbahaya” tersebut menimbulkan kepanikan tersendiri bagi warga di Pekanbaru. Kualitas udara yang tidak layak untuk dihirup dan berbahaya bagi kesehatan membuat sebagian warga berniat untuk sementara mengungsi ke kota lain yang lebih aman sembari menunggu keadaan kembali normal.

Masalah kompleks dibalik kebakaran hutan

Sudah sangat jelas jika masalah kebakaran hutan di sumatera adalah “disengaja”. Banyak sudah bukti di lapangan yang menunjukkan factor kesengajaan tersebut. Umumnya pembakaran lahan ini dilakukan untuk membuka kebun-kebun sawit, ataupun area pemukiman baru. Cara pembakaran masih dipertahankan karena cara ini menjadi cara yang paling cepat dan murah. Bahkan laporan dari BNPB seperti yang di rilis CNN menyebutkan jika biaya pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya membutuhkan Rp 600-800 ribu per hektare, sedangkan tanpa membakar butuh Rp 3,4 juta per hektare untuk membuka lahan. Kita bisa bayangkan berapa besar biaya yang dapat dihemat jika kita menggunakan model pembakaran.

Pejabat yang korup adalah faktor selanjutnya yang membuat masalah ini sulit untuk dihilangkan. Sudah menjadi rahasia umum jika alih fungsi hutan merupakan salah satu cara untuk mengeruk kekayaan bagi para pejabat, para tikus-tikus berdasi masih dengan lincahnya melancarkan aksi meski harus sembunyi-sembunyi dari kejaran KPK. Kondisi ini diperparah dengan lemahnya penegakan hukum, pihak penegak hukum seakan hanya bisa diam melihat keadaan, mungkin saja kepentingan mereka tersandera oleh tumpukan rupiah yang sudah di bayarkan sebagai upah tutup mata.

Pemerintah seharusnya lebih bertindak tegas terhadap hal ini, masyarakat tak lebih seperti dikorbankan jika harus lebih lama menunggu tanpa aksi yang pasti. Jika ingin benar-benar menghilangkan potensi kebakaran lahan maka moratorium pembukaan hutan paling tidak menjadi solusi jitu untuk saat ini, jika tidak maka kemungkinan bencana kabut asap di tanah Sumatera masih bisa terulang di tahun depan.

Berita Viral yang memperkeruh suasana.

Ditengah kondisi kualitas udara di Pekanbaru yang masih belum stabil. Pagi ini saya dikejutkan oleh beberapa rekan yang membagikan tautan dari portal online salah satu surat kabar terbesar di Riau. Judulnya “Petugas Laboratorium Udara Turunkan Status Berbahaya Jadi Sangat Tidak Sehat”. Pada laman tersebut disebutkan jika “Salah seorang petugas Laboratorium Udara Pekanbaru mengganti kode pada alat pencatat ISPU di simpang Mal SKA Pekanbaru dari status Berbahaya diturunkan menjadi Sangat Tidak Sehat, Jumat petang (4/9/2015) pukul 17.00 WIB”. Tak urung berita tersebut menjadi bahan cibiran di kalangan netizen, banyak yang menuduh jika oknum tersebut memanipulasi data. Dengan cepatnya berita tersebut menyebar di internet sehingga semakin memperkeruh suasana.

Apakah ada konspirasi dari kejadian terebut? Apakah yang dilakukan petugas dapat dikategorikan sebagai tindak pelanggaran?. Nah daripada terus menduga, menambah-nambahkan informasi yang belum pasti yang natinya membuat masyarakat semakin panik. Ada baiknya jika kita mencari tahu sedikit terkait tingkatan dalam ISPU itu sendiri.

Melalui tulisan ini saya mencoba memaparkan beberapa hal terkait ISPU mulai dari pengertian hingga bagaimana cara membaca skala ISPU dan menginterpretasikannya dari sisi keilmuan teknik lingkungan. Harapannya tulisan ini dapat membantu memperjelas kondisi yang terjadi sekarang serta dapat menghindari polemik di masyarakat . Untuk mempermudah pemahaman maka penjelasan saya sajikan dalam bentuk tanya jawab.

Apa sih Indek Standar Pencemar Udara (ISPU) itu?

Indek standar pencemar udara atau yang lebih di kenal dengan ISPU. Sebagaimana disebutkan didalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997 Tentang : Indeks Standar Pencemar Udara. ISPU adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Atau secara singkat ISPU dapat dipahami sebagai skala yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tingkat polusi udara sehingga dapat mudah dipahami oleh masyarakat.

Harus diakui jika data kualitas udara hanya disajikan dalam bentuk konsentrasi pencemar akan sulit dipahami oleh masyarakat umum. Misalkan terdapat kandungan gas Karbon Monooksida (CO) didalam udara ambien sebesar 30 mg/m3 atau 24,3 ppm, apa artinya?. Tentu lebih mudah jika konsentrasi pencemar tersebut digambarkan kedalam rentang tertentu, misalnya “24 ppm = Sehat”. Data yang ditampilkan dalam bentuk ISPU selain menjadi lebih sederhana, nilai tunggal dan universal pada ISPU juga dapat mempermudah proses penilaian misalnya untuk membandingkan kualitas udara pada suatu daerah dengan daerah lainnya.

Adapun nilai ISPU yang dimaksud merupakan nilai dengan rentang tingkat polusi udara yang digambarkan sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

Sedangkan paramater kualitas udara yang diatur didalam ISPU seperti terlihat pada table berikut:

Perlu diingat kembali jika nilai ISPU merupakan bentuk sederhana dari kualitas udara yang sangat kompleks. Sehingga data meteorologis seperti suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin biasanya juga ikut disertakan dalam menelaah hasil ISPU nantinya.

Lalu bagaimana sistem ISPU bekerja?

Idealnya ISPU merupakan bagian dari suatu sistem besar dan terintegrasi yang dikenal sebagai “air quality monitoring system” (sistem pemantauan kualitas udara). Paling tidak didalam sistem ini terdiri dari beberapa bagian yaitu:

1. INPUT
Bagian INPUT data berupa peralatan pemantau kualitas udara. Disini berbagai parameter kualitas udara direkam melalui alat tertentu. Alat tersebut dapat diletakkan pada stasiun pemantau kualitas udara yang tetap (fixed station) atau bisa juga pada stasiun pemantau kualitas udara yang dapat berpidah-pindah (mobile station). Stasiun-stasiun ini bekerja secara otomatis dan terus-menerus dalam memantau kualitas udara tergantung pada pengaturannya masing-masing.

2. DATA PROCESSING
Data yang direkam dari stasiun pemantau selanjutnya di transfer menuju data center secara manual atau dapat juga otomatis. Jika data yang didapatkan masih perlu analisis lanjutan maka data mentah tersebut di proses di laboratorium udara terlebih dahulu baru kemudian dikirim ke data center. Data center sangat berperan penting terhadap validitas dan realibilitas data, sehingga proses pemeriksaan dan klarifikasi data menjadi poin penting harus dilakukan disini. Kemudian langkah selanjutnya adalah mengkonversi data konsentrasi parameter kualitas udara menjadi kedalam bentuk ISPU. Setelah data didapatkan dalam bentuk ISPU.

3. OUTPUT
Data kualitas udara dalam bentuk ISPU selanjutnya akan ditampilkan kedalam papan display. Jika terdapat beberapa stasiun kualitas udara maka data yang digunakan adalah data ISPU yang paling tinggi. Papan display diletakkan di area tertentu yang dapat dengan mudah terlihat oleh masyarakat misalnya di jelan-jalan protokol. Papan display biasanya menampilkan data ISPU dalam bentuk diagram untuk mempermudah masyarakat yang akan membacanya. Selain data dalam bentuk display, masyarakat juga dapat memperoleh informasi dalam bentuk laporan pemantauan kualitas udara suatu daerah. Biasanya laporan ini tersedia dalam jangka waktu bulan atau tahun.

Sayangnya di Indonesia belum semua kota memiliki sistem monitoring kualitas udara yang terintegrasi. Hingga saat ini baru 10 kota di Indonesia yang mempunyai sistem ini, kota-kota tersebut adalah Medan, Pekanbaru, Jambi, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palangkaraya dan Pontianak. Untuk kota yang tidak mempunyai sistem terintegrasi bukan berarti tidak ada data ISPU. Kota-kota di pulau sulawesi dan Papua misalnya tetap bisa menampilkan kualitas udara dalam bentuk ISPU, hanya saja proses pemantuan (monitoring), pengolahan dan penampilan data kualitas udara dilakukan secara manual.

ISPU sekedar informasi atau punya tujuan lain?

Selain sebagai Informasi kepada masyarakat sebagai bentuk layanan publik (public service). Nantinya informasi yang didapatkan dari ISPU dapat juga digunakan sebagai bahan pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara (environmental control) dan alat didalam penegakan hukum (law enforcement). Misalnya dalam kasus kabut asap kali ini, pemerintah daerah bisa menggunakan ISPU sebagai salah satu instrument dalam penetapan kondisi darurat. Data yang ditampilkan dalam bentuk ISPU juga bisa menjadi penanda yang dapat meningkatkan kesadaran (public awareness) dari para pelaku usaha terhadap kualitas udara di sekitar.

Sekarang bagaimana cara mengkonversi konsentrasi pencemar kedalam ISPU?

Untuk melakukan konversi konsentrasi pencemar udara kedalam ISPU mengacu kepada pedoman sebagaimana tertulis didalam Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep- 107/Kabapedal/11/1997 Tentang Pedoman Teknis Perhitungan Dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara.

Didalam dokumen tersebut disebutkan dua cara yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan ISPU. Menggungakan (1) Grafik dan menggunakan (2) persamaan. Sebenarnya agak terlalu teknis untuk membahas hal ini, karena berhubungan dengan perhitungan matematis yang mungkin agak kurang menarik. Namun sebenarnya persamaan yang digunakan didalam perhitungannya amatlah mudah sehingga tidak ada salahnya jika saya menjelaskan lebih lanjut disini.

Untuk cara grafik, penjelasannya adalah sebagai berikut:

Sedangkan untuk perhitungan menggunakan persamaan seperti dijelaskan pada contoh berikut ini:

Bagaimana cara membaca skala pada ISPU?

Tabel berikut akan membantu didalam menginterpretasikan skala (level) yang didapatkan dari perhitungan ISPU dan dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan.

Jika papan display menunjukkan angka lebih dari 300 berarti sudah cukup menjadi penanda bahwa kualitas udara berbahaya bagi kesehatan manusia. Angka 0 hingga 50 menunjukkan kualitas udara paling baik di suatu daerah.

Analisis

Nah dari penjelasan diatas kiranya pembaca sekalian bisa mendapatkan sedikit gambaran terkait dasar-dasar ISPU. Selanjutnya mari kita analisis bersama berita tentang petugas mengubah display ISPU yang sempat membuat heboh warga. Analisis saya sebagai berikut:

Saya tidak akan membuat dugaan dan sangkaan terhadap petugas tersebut karena saya tidak melihat langsung kejadian, saya hanya membaca berita melalui laman media online. Masih banyak hal yang perlu ditanyakan dan diketahui, bisa saja yang dilakukan petugas adalah pemeriksaan atau pemeliharaan rutin (maintenance) misalnya.

Namun jika anggapan kita masih kepada petugas yang mengubah data display dari level “berbahaya” menjadi “sangat tidak sehat”. Maka akan lebih mudah jika pengubahan dilakukan di data center bukan di output (display). Meskipun demikian mengubah dan merekayasa data lalu menyajikan data yang termodifikasi tersebut adalah perbuatan yang dilarang. Bagaimana tidak, tujuan dari pemantauan kualitas lingkungan adalah memberikan gambaran kondisi lingkungan terini kepada masyarakat. Jika kondisi yang disampaikan telah direkayasa maka jelas merupakan suatu kebohongan publik. Apatah lagi sistem pemantauan kualitas udara yang ada di Pekanbaru terkoneksi langsung secara nasional dan bahkan dijamin tingkat validitasnya.

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya mencoba mencari tahu langsung ke pusat data. Saya mengumpulkan informasi terkait data ISPU di kota pekanbaru melalui layanan yang disediakan oleh Pusat Pengelolaan Ekoregion Wilayah Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di website ini kita bisa secara realtime memantau berbagai data kualitas lingkungan, salah satunya berupa data pemantauan kualitas udara . Data ini merupakan hasil dari pengumpulan data pada pusat data ISPU kota Pekanbaru, sebagaimana saya jelaskan sebelumnya di poin data processing.

Silahkan akses websitenya disini http://ppesumatera.menlh.go.id/aqms/

Untuk mempermudah saya tampilkan screen shoot nya seperti terlihat pada gambar berikut:

Saya mengambil data enam hari terakhir sejak tanggal 3 September (sehari sebelum berita diterbitkan di media) hingga tanggal 8 September. Dari data tersebut terlihat secara jelas jika sejak tanggal 4 hingga 6 September terdapat data ISPU melebihi 300 untuk parameter PM10. Meskipun demikian data tersebut masih bersifat fluktuatif dan temporal atau hanya pada rentang waktu tertentu. Data ISPU juga menunjukkan jika level berbahaya hanya berkisar pada 3-5 jam setiap harinya.

Sedikit berbeda dengan data pada 7-8 September, pada waktu tersebut data ISPU berada pada level berbahaya hampir di 14-16 jam setiap harinya. Secara statistik dapat disimpulkan jika pada tanggal 7-8 September ISPU untuk parameter PM10 bisa dikategorikan kedalam level “berbahaya”.

Sebuah nasehat.

Terlepas dari benar atau tidaknya berita diatas, namun dari hasil penelusuran data sebagaimana saya paparkan sebelumnya sudah sangat jelas jika pada seminggu terakhir kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru berada dalam level berbahaya. Jika memang demikian maka tidak ada cara lain lagi kecuali mengurangi aktivitas kita di luar rumah dan tetap menggunakan masker sebagai salah satu cara menghalangi terhirupnya partikel-partikel tadi.

Kita masih harus menunggu penangangan yang dilakukan oleh pemerintah sembari tetap berdoa agar bencana ini cepat berlalu. Namun paling tidak, turunnya kualitas udara, kekeringan, pencemaran air dan sederet permasalahan lingkungan lain bisa menjadi pengingat bagi kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al quran “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS. Ar Ruum ayat 41.

Jangan sampai kita terus berbuat kerusakan, jangan sampai kita terlena untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dalam tempo yang sangat singkat namun mengorbankan kapasitas dan daya dukung lingkungan. Jika kapasitas dan daya dukung lingkungan telah terlampaui maka hadirnya bencana lingkungan adalah hal yang wajar sebagai respon dari alam untuk mencapai titik keseimbangannya kembali.

Sudah saatnya bagi kita untuk lebih sadar terhadap masalah-masalah lingkungan disekitar kita. Karena bumi yang kita tinggali sekarang ini sejatinya bukanlah milik kita melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Baik buruknya yang akan kita wariskan nantinya akan sangat tergantung kepada cara kita dalam menjaganya.

Tentu kita belum bisa mengubah semuanya menjadi baik dalam sekejap mata, namun mulai dari diri kita sendiri lalu saling mengingatkan didalam keluarga bisa menjadi cara ampuh kita untuk tetap optimis dan peduli. Ditengah kondisi permasalahan bangsa yang kian kompleks ini, mengeluh saja tidak akan bisa merubah keadaan menjadi lebih baik. Namun rasa kepedulian dapat menggerakan pribadi, komunitas hingga ke skala yang lebih besar. Misalnya dalam hal yang sederhana, peduli dalam membuang sampah secara benar dari rumah, peduli untuk tidak merokok di area publik hingga gerakan-gerakan masyarakat yang benar benar menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Jika semangat kepedulian itu terus dipupuk dengan optimisme maka lambat laun perubahan menuju ke arah yang lebih baik bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dicapai.

3 Responses to Mengenal Indek Standar Pencemar Udara (ISPU)

  1. Zahrah says:

    selamat malam. mas saya mau bertanya untuk sumber tabel parameter kualitas udara dr mana ya mas? saya sangat membutuhkan datanya sbg bahan referensi skripsi saya. sebelumnya saya sudah pernah mengirimkan pesan ini mungkin belum dibaca. mohon bantuannya mas. terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *